Seruan Imam Husain untuk Menjadi Manusia Merdeka

Muharram, Bulan Kesedihan

HPI Iran – Setiap bulan memiliki suasana dan ciri khasnya. Misal, ketika kita memasuki bulan Ramadan, suasana hati kita penuh dengan semangat untuk meningkatkan ibadah dan amal kita. Berpuasa, membaca Al-Quran, bermunajat, mendekatkan diri kepada Allah, bersedekah, berbagi dan lain-lain.

Ketika memasuki bulan Syawal, hati kita gembira menyambut datangnya hari raya. Begitupun bulan-bulan lainnya; Zulhijah, Rajab, dan Syakban. Tidak terkecuali bulan Muharram. Ketika memasuki bulan Muharram, hati-hati kita larut dalam kesedihan, dan kedukaan.

Imam Baqir as. bersabda,

Ketika tiba bulan Muharram ayahku (Imam Ali Zainal Abidin as.) tidak pernah terlihat tertawa.”

Bulan muharram adalah bulan kesedihan para imam maksum as. Karena pada bulan ini terjadi sebuah peristiwa yang tak akan pernah hilang dari sejarah.

Sebuah peristiwa agung yang menggetarkan langit dan bumi. Sebuah peristiwa yang memisahkan antara kubu yang haq dan yang batil. Yaitu peristiwa pembantaian keluarga sebaik-baiknya manusia Muhammad Rasulullah saw.

Peristiwa Asyura, perjuangan Imam Husain, keluarga dan sahabatnya di hari kesepuluh Muharram itu, memiiki banyak sekali pesan-pesan moral. Pesan-pesan untuk seluruh umat manusia, tidak sebatas musuh di medan perang saat itu saja. Pesan Asyura Husaini adalah sebuah pesan yang universal dan abadi. Tidak terbatas waktu dan tempat.

Baca juga: Definisi, Sejarah dan Syarat Laknat. Relevankah bagi Kita?


Bara Api Imam Husein as.

Rasulullah saw bersabda,

”Sesungguhnya bagi kesyahidan anakku Husain memiliki bara api di dalam hati-hati para mukmin yang tak akan pernah padam hingga hari kiamat.”

Bara api inilah yang merupakan inti perjuangan Imam Husain as. Bara api ini adalah semangat perjuangan Al-Husain untuk memperbaiki umat kakeknya Rasulullah saw.

Semangat ini akan terus membara di dalam hati-hati orang mukmin dan tidak akan pernah padam hingga hari kiamat kelak. Semangat dan perjuangan untuk memperbaiki umat kepada para mukmin dan menjadi tugas mereka di mana pun mereka berada dan kapanpun hingga hari kiamat.

Salah satu pesan dari perjuangan Imam Husein as. pada hari Asyura adalah ketika beliau mengajak kubu pasukan lawan untuk menjadi orang-orang yang merdeka.

ويلكم يا شيعة الشيطان و ان لم يكن لكم دين و كنتم لا تخافون المعاد كونوا احرارا في دنياكم

“Celakalah kalian, wahai pengikut Syaitan, jika kalian tidak memiiki agama dan tidak percaya kepada hari akhir, maka setidaknya jadilah orang-orang yang merdeka.”


Apa yang maksud dari orang merdeka?

Manusia sebagai makhluk Allah swt. telah memiliki keistimewaan tersendiri yang tidak makhluk-makhluk lainnya miliki. Allah swt berfirman,

“Dan Sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ : 70).

Selain ilmu dan akal, di antara bentuk kemuliaan dan kelebihan manusia atas makhluk-makhluk lain, menurut sebagian para mufassirin (ahli tafsir), adalah kecenderungannya untuk terbebas dari penindasan dan penjajahan.

Dengan kata lain, kemerdekaan merupakan kunci kemuliaan manusia. Manusia tak akan lebih utama dari makhluk-makhluk lain dan menjadi mulia sebelum ia terbebas dari penjajahan.

Lalu pertanyaannya, kemerdekaan seperti apa yang akan menjadikannya mulia?

Dalam sebuah (riwayat) dari Rasulullah saw,

“Allah mengutus kami (Rasul) untuk memerdekakan manusia dari penghambaan manusia kepada manusia menuju penghambaan manusia kepada Rabb manusia, dari sempitnya kehidupan dunia kepada kelapangannya, dari ketidakadilan agama-agama yang ada kepada keadilan Islam.”

Imam Ali as. bersabda,

”Janganlah engkau jadi budak orang lain karena sesungguhnya engkau terlahir dalam keadaan bebas.”

Allah swt menciptakan manusia dan memberinya fitrah. Manusia yang bebas dan merdeka adalah manusia yang menjaga fitrahnya dari pengaruh apapun. Manusia yang memiliki fitrah yang suci sebagaimana ia dilahirkan. Fitrah inilah yang merupakan identitas manusia dan merupakan pembeda antara manusia dengan makhluk lainnya.

Identitas manusia inilah yang disebut dengan nilai-nilai kemanusiaan. Nilai-nilai kemanusiaan yang memedakan manusia dari selainnya. Jika kita melihat kondisi saat imam Husain as menyerukan untuk menjadi orang-orang yang merdeka hal ini akan semakin jelas. Seruan imam Husain, disampaikan pada detik-detik terakhir kehidupan beliau, ketika beliau hanya tinggal seorang diri, kerabat serta keluarganya telah meneguk cawan syahadah.


Merdeka dalam Lisan Imam Husein as.

Imam Husain as ingin mencegah niatan kelompok musuh yang saat itu ingin menyerang tenda-tenda rombongan imam Husain yang di isi para wanita dan anak-anak. Manusia yang masih memiliki hati Nurani, manusia yang masih memiliki nilai-nilai kemanusiaan tidak akan tega untuk menyerang para wanita dan anak-anak.

Menurut imam Husain as orang-orang yang merdeka adalah orang-orang yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Kemanusiaan menurut Alquran adalah kemuliaan yang dimiliki manusia yang tidak terdapat pada makhluk-makhluk selainnya.

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.

Kemuliaan inilah yang menjadikan manusia sebagai manusia. kemuliaan manusia bukan terletak pada nikmat apa yang telah diberikan Allah swt kepadanya. Karena makhluk-makhluk ciptaan Allah lainnya juga mendapat nikmat dari Allah.

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَآ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَٰفِلُونَ

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah). Dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.

Dari ayat ini jelas sekali bahwa nilai kemuliaan manusia bukan dari bentuk rupa fisiknya. Allah menciptakan mata bagi manusia dan, Allah juga menciptakan mata untuk hewan-hewan. Bahkan, Sebagian hewan memiliki penglihatan yang lebih baik dari manusia.


Keistimewaan Manusia dari Makhluk Lain

Yang membedakan manusia dengan mahluk selainnya adalah kemampuan manusia untuk memilih bagaimana menggunakan nikmat-nikmat yang telah Allah swt. berikan kepadanya. Sedangkan hewan tidak memiliki kemampuan ini.

Manusia yang tidak menggunakan hatinya untuk merasakan penderitaan orang lain. Tidak menggunakan matanya untuk melihat kesusahan orang lain. Tidak menggunakan telinganya untuk mendengar masalah-masalah. Manusia yang tidak memiliki rasa empati, tidak memiliki nilai-nilai kemanusiaan di dalam dirinya. Sesungguhnya ia seperti hewan-hewan ternak, bahkan lebih rendah derajatnya dari hewan-hewan ternak. Manusia seperti ini tidak memilik kemuliaan sebagaimana yang Allah swt. firmankan.

Seruan imam Husain as untuk menjadi orang-orang merdeka adalah seruan untuk menjunjung tinggi prinsip dan nilai kemanusiaan.

Semoga kita menjadi orang yang merdeka, memiliki hati yang peka, mata yang melihat dan telinga yang mendengar. Amin yarabbal alamin.

Ceramah malam ke-5 Muharram 1443 H, Haiat Hubbul Husein.

One thought on “Seruan Imam Husain untuk Menjadi Manusia Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *