Ramadan dan Karantina Diri

Di antara jutaan makhluk-Nya, manusia adalah ciptaan yang paling sempurna. Hal itu tak lain karena ia dibekali dengan komponen khusus yang hanya dimiliki manusia, yaitu akal. Meski begitu, keberadaan akal yang tersemat di dalam dirinya tak serta merta menjadikannya makhluk sempurna. Harus ada usaha untuk mencapai kesempurnaan itu. Karena pada dasarnya, manusia adalah makhluk yang selalu mencari kesempurnaan. Sejatinya, misi dari penciptaan manusia adalah agar ia mencapai pada puncak kesempurnaan itu.

Untuk sampai pada kesempurnaan, manusia tak sendirian. Allah Swt. mengutus seorang nabi, salah satu tujuannya adalah mengantarkan manusia pada gerbang kesempurnaan dan kebahagiaan. Seperti yang terekam di dalam beberapa ayat Al-Quran,

“Katakanlah: Terangkanlah kepadaku, jika datang siksaan Allah kepadamu dengan sekonyong-konyong atau terang-terangan, maka adakah yang dibinasakan (Allah) selain dari orang-orang yang lalim?”[1]

“Sebagaimana (Kami telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul di antara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan menyucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah (As-Sunah), serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.”[2]

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh dan Ibrahim dan Kami jadikan kepada keturunan keduanya kenabian dan Al Kitab, maka di antara mereka ada yang menerima petunjuk dan banyak di antara mereka fasik.”[3]

Namun, pada praktiknya, tak sedikit manusia yang menentang dan menolak dakwah nabi, seperti yang pernah dialami Nabi Nuh As. yang tengah menyeru kepada Tauhid, namun justru ditentang oleh umatnya, sebagaimana yang terabadikan di dalam ayat berikut,

“Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.”

Hal serupa juga pernah menimpa nabi kita, Muhammad Saw. dan bahkan ia dituduh sebagai orang gila, sebagaimana yang termaktub di dalam surah Al-Hijr ayat 6,

“Mereka berkata: ‘Hai orang yang diturunkan Al-Quran kepadanya, sesungguhnya kamu benar-benar orang yang gila.’”

Lalu Al-Quran meluruskan bahwa Nabi Muhammad Saw. bukanlah orang gila, dalam surah Al-Qalam ayat  2 Allah Swt.,

“Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan orang gila.”

Lebih lanjut, salah satu ajakan para nabi dalam membimbing umatnya adalah agar beribadah dengan mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sebab salah satu tujuan penciptaan manusia, menurut Al-Quran, tak lain adalah agar manusia menyembah-Nya, seperti yang tertulis di dalam surah Az-Zaariyaat ayat 56,

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.”

Terkait dengan ibadah, maka saat ini kita sedang berada di dalam bulan suci Ramadan, dan kesempatan besar bagi kita untuk kembali mempererat tali hubungan kita dengan Allah Swt. Ramadan juga bulan yang selalu dinanti oleh umat Muslim di dunia. Penantian mereka tentu saja bukan karena hendak ‘buka bersama’, atau hanya sekadar ingin melaksanakan ngabuburit, melainkan berharap akan ganjaran yang melimpah, yang Allah Swt. berikan kepada hamba-Nya. Iya, sejatinya bulan Ramadan adalah bulan umatnya Nabi Muhammad Saw., yang juga menjadi tamu atas jamuan yang Allah Swt. berikan kepada mereka.

Sesunggunya kita di bulan ini adalah tamu-Nya, dan Allah Swt. adalah Tuan Rumahnya. Layaknya Tuan Rumah, maka Dia akan menyajikan berbagai jamuan kepada tamu-Nya. Namun, jamuan yang disajikan bukanlah berupa makanan dan minuman yang mengenyangkan perut, melainkan jamuan ruhani, berupa ganjaran yang Dia berikan kepada hamba-Nya. Di dalam salah satu riwayat yang masyhur dikatakan, Rasulullah Saw., bersabda,

“Bulan Rajab adalah bulan Allah; Syakban adalah bulanku dan Ramadan adalah bulan umatku. Barang siapa yang berpuasa di tiga bulan ini, maka Allah berhak mengampuni dosa mereka, dan Allah menjamin di sisa usia mereka, dan Allah akan melindunginya dari dari rasa haus dan bahaya di hari kiamat kelak.”[4]

Keutamaan Bulan Ramadan dan Berpuasa

Untuk mempertajam pengetahuan kita tentang bulan mulia ini dan serangkaian ibadah lainnya, penulis hendak membeberkan keutamaan bulan Ramadan. Apa saja keutamaan bulan ini, berikut penjelasanya secara terperinci.

Pertama, penulis hendak mengawalinya dengan sebuah sabda Nabi Muhammad Saw. yang masyhur, yang berbunyi sebagai berikut, “Wahai manusia! Telah datang bulannya Allah, yang di dalamnya terdapat keberkahan, rahmat dan ampunan; bulan di mana paling baik di antara bulan-bulan lainnya di sisi Allah; dan malamnya adalah paling baik di antara malam-malam lainnya; dan waktunya paling baik di antara waktu yang ada; bulan di mana kalian berposisi sebagai tamunya Allah, dan berhak mendapat kasih sayang-Nya. Napas-napas kalian di bulan ini dihitung sebagai tasbih; dan tidur kalian di bulan ini terhitung sebagai ibadah; amal perbuatan kalian di bulan ini akan diterima; dan tiap doa yang kalian panjatkan di bulan ini adalah mustajab, serta bulan ini sebaik-baiknya waktu di mana Allah memandang hamba-Nya dengan penuh kasih sayang.[5]

Di dalam penggalan khutbahnya terkait bulan Ramadan yang termaktub di dalam Kitab Mafatihul Jinan, Rasulullah Saw. bersabda, “Barang siapa yang memberi makanan untuk berbuka puasa kepada orang Mukmin yang berpuasa di bulan ini, maka Allah akan memberikan ampunan baginya dari dosa-dosanya yang telah berlalu.”

Di penggalan khutbahnya yang lain, Nabi Saw. bersabda, “Bulan Ramadan adalah bulannya Allah Swt. Ia paling mulia di antara bulan yang lain, bulan di mana pintu-pintu langit, surga dan kasih sayang dibuka; dan tertutupnya pintu neraka jahanam. Dan di bulan ini, ibadah di malam hari lebih baik daripada seribu bulan.”

Salah satu cara untuk menjadi hamba yang taat kepada-Nya, menjauhi segala larangan-Nya, maka ada banyak anjuran untuk melakukan ibadah. Salah satunya berpuasa. Nah, puasa wajib Ramadan adalah salah satu bentuk membangun diri menjadi pribadi yang bertakwa dan mulia, baik di sisi Allah Swt. maupun manusia. Hal ini dipertegas di dalam salah satu ayat Al-Quran, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”[6]

Bulan Ramadan dan Karantina Diri

Sejak di penghujung tahun 2019, virus corona telah menjangkiti masyarakat Hubei, Cina. Tak berhenti di situ, kini virus mematikan itu telah menyebar hampir ke seluruh pelosok negara di dunia. Sejauh ini, sudah ratusan ribu nyawa di dunia melayang akibat virus itu. Di Indonesia sendiri, sudah ribuan orang positif corona dan ratusan nyawa meninggal dunia. Hingga tiba bulan suci Ramadan, virus itu masih menyerang.

Puasa Ramadan tahun ini, mungkin berbeda dengan puasa Ramadan sebelumnya. Sekarang kita harus menjalankan ibadah puasa di tengah pandemi mematikan tersebut. Bahkan, MUI telah mengimbau umat Muslim di Indonesia untuk menjalankan rentetan ibadah Ramadan di rumah, termasuk tarawih demi mencegah penyebaran virus corona. Berangkat dari imbauan-imbauan pemerintah untuk mengkarantina diri di rumah, ada sedikit korelasi dengan ibadah Ramadan, terutama puasa.

Nabi Muhammad Saw., di dalam khutbahnya, yang termaktub di dalam kitab Mafatihul Jinan, bersabda, “Sesungguhnya fokus puasa tidak selamanya berkaitan dengan menahan makan dan minum. Jika kalian berpuasa, maka jagalah lisan kalian dari perbuatan berbohong; dan tundukkan pandangan kalian dari sesuatu yang Allah haramkan….”

Pendek kata, sejatinya ibadah di bulan Ramadan adalah momen untuk mengkarantina diri dari perihal duniawi yang acapkali melenakan, hal itu juga berlaku di dalam puasa, di mana ia tak bisa dibatasi cukup hanya menahan rasa lapar dan haus saja. Lebih dari itu, orang yang berpuasa hendaknya  mengkarantina seluruh anggota tubuhnya dari hal-hal yang menghanyutkannya pada kemaksiatan, untuk menjaga telinga, mulut, hidung, mata dan anggota tubuh lainnya. Dengan mengkarantina diri dari hal-hal yang diharamkan oleh Allah Swt., maka kita berharap, semoga kita bisa mencapai tujuan dari puasa, yaitu menjadi hamba-Nya yang bertakwa.

(Tulisan ini pernah diterbitkan di Buletin Digital HPI edisi khusus Ramadan, 2020).


[1] QS. Al-An’am: 47

[2] QS. Al-Baqarah: 151

[3] QS. Al-Hadid: 25

[4] Wasail As-Syiah, Syekh Hur Amili, jil. 2 hal. 627

[5] Wasail As-Syiah, Syekh Hur Amili, jil. 10, hal. 313

[6] QS. Al-Baqarah: 183

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *