Peringatan Acara Syahadah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. & Wafatnya Imam Khomini qs.

Qom – Divisi Sosial Budaya Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) Iran menyelenggarakan acara peringatan hari syahadah Imam Ja’far Ash-Shadiq as. dan hari wafatnya Imam Khomeini qs.

Acara ini diselenggarakan di kesekretariatan HPI Iran pada hari Sabtu, 6 Juni 2020, bertepatan dengan tanggal 24 Syawwal 1442 Hijriah.

“Menimbang pandemi Covid di kota Qom yang belum berakhir, dan diberlakukannya beberapa pembatasan oleh pemerintah setempat, kami tidak bisa mengadakan acara ini dengan skala yang besar seperti yang biasa dilakukan pada acara-acara peringatan sebelumnya.” Ungkap ketua panitia acara, Wildan, saat ditemui pada Sabtu (06/06/2021) pagi.

Acara yang dihadiri oleh 23 pelajar itu, dimulai pukul 19.00 dengan lantunan pembacaan ayat suci Alquran oleh Sayyid Askari Al-Muthahhar, dan berakhir pukul 20.38 ditutup dengan shalat maghrib berjamaah.

Meski acara ini diadakan dalam skala kecil yang tidak memungkinakan untuk mengundang seluruh pelajar, namun susunan acara tetap dibuat seperti biasanya. Acara dimulai dengan pembukaan, tilawah Alquran, ceramah ilmiah-maknawiah, pembacaan ­maktal (kidung duka), pembacaan maktam (syair duka), dan pembacaan doa ziarah. Yang membedakan dari acara biasanya, durasi setiap sesi acara dibuat lebih singkat dan dengan menjaga penuh protokol kesehatan.

Dalam acara ini, panitia menunjuk Ust. Zakariya sebagai penceramah. Selama kurang lebih 45 menit, ada banyak sekali poin penting dan pembahasan menarik terkait sosok Imam Ja’far Ash-Shadiq as. dan Imam Khomeini qs. Menurut beliau, di antara kedua sosok ini ada banyak hal yang saling berkaitan.

Ust. Zakariya memulai ceramahnya dengan membahas tentang latar belakang mengapa manusia butuh kepada suatu sistem, aturan, dan hukum dalam kehidupanya di dunia. Adanya sistem yang mengatur hidup manusia adalah sebuah kelaziman, dan sesuatu yang sangat mendasar bagi manusia. Karena, manusia adalah makhluk sosial dan saling butuh kepada satu sama lain.. Sistem tersebut, tentunya berfungsi untuk menjaga keteraturan dan mencegah terjadinya konflik antar manusia yang memiliki kebutuhannya masing-masing.

Dalam ceramah ini, Ust. Zakariya memfokuskan pembahasannya dalam permasalahan, bahwa pelajar agama dituntut untuk tidak mencukupkan dirinya menjadi orang yang alim atau cerdas saja. Namun, pelajar agama juga harus sensisitf dan punya rasa peka tinggi kepada permasalahan sosial, khususnya soal penegakkan keadilan di tengah masyarakat. Beliau mengatakan, “Imam Ja’far butuh orang alim yang mujahid, cerdas, pemberani, dan organisatoris.”

Di akhir ceramah, Ust. Zakariya menerangkan bahwa Imam Khomeini adalah contoh nyata orang alim, yang juga seorang pejuang, sosok pemberani, dan seorang pemimpin yang mampu mengatur gerakan revolusi Islam di Iran saat itu dengan baik. Beliau juga menegaskan, sebagai pelajar agama, jika kita ingin ikut serta menolong Imam Mahdi af., kita tidak boleh mencukupkan diri menjadi orang yang alim saja dan mementingkan diri sendiri. Tapi, seorang alim yang peka dengan keadaan sosial, pejuang tangguh, pemberani, dan rapi dalam menjalankan tugasnya dengan kemampuan organisatoris yang baik.

Dengan penuh khidmat, acara ini dilanjutkan dengan pembacaan kidung duka oleh Iman Abdurrahman, lalu pembacaan syair duka oleh Caesar Mahendra dan Rosyid Kurniawan, kemudian diakhiri dengan pembacaan doa ziarah bersama yang dipimpin Sayyid Ayatullah Al-Kaff.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *