Pendidikan Anak di Zaman Perang Budaya, Perspektif Sayid Ali Khamenei

Seorang ibu mengutarakan kecemasannya, dia merasa sedih dan prihatin terhadap sikap konsumerisme berlebih-lebihan yang dimiliki anak-anak remaja penggemar kelompok musik  asing yang menurutnya tidak masuk akal.

Apakah hal tersebut adalah dampak dari masuknya perang budaya dan tepatnya perang ideologi yang sedang gencar-gencarnya mewarnai kehidupan generasi muda saat ini?

Urgenitas Pendidikan Anak di Era Globalisasi

Dalam pandangan Ayatullah Sayid Ali Khamenei, pendidikan merupakan tujuan asli di dalam Islam, dan juga misi utama diutusnya Nabi Muhammad saw.[1]

Hidup di era globalisasi dan perang budaya saat ini dapat menjadi tantangan bagi dunia pendidikan, khususnya pendidikan anak. Dengan adanya berbagai macam fasilitas dan akses bebas ke media sosial dapat menjadi ancaman sekaligus peluang bagi para tenaga pendidik (orang tua dan guru) dalam mewujudkan dunia pendidikan dan lingkungan pendidikan yang aman bagi anak didik mereka. Hal tersebut menjadi tantangan bagi para pendidik karena dengan cepat dapat memupuskan pengaruh positif pendidikan yang telah diusahakan sebelumnya.

Pendidikan anak sangat penting bagi kelangsungan hidup suatu bangsa. Anak adalah modal dan investasi bangsa yang akan menyumbangkan kemajuan dan kemunduran bagi bangsa dan tanah airnya, oleh karena itu mendidik anak dengan budaya bangsa tersebut dapat mengokohkan integritas dan pertahanan suatu bangsa. Pada umumnya untuk mengalahkan suatu negara dalam peperangan diperlukan benturan-benturan fisik yang dapat melumpuhkan berbagai sektor penting sebuah negara. Tapi dengan gencarnya perang ideologi dan budaya saat ini, dapat melemahkan kekuatan suatu negara tanpa harus terjadi benturan fisik.

Anak-anak merupakan bagian terpenting elemen negara dan masyarakat. Mereka adalah tunas-tunas bangsa, sumber daya manusia dan kekuatan suatu negara, sama halnya dengan anggota tubuh apabila salah satu anggota tubuh menderita sakit, pastinya akan mempengaruhi fungsi dan kerja tubuh secara keseluruhan. Jika anak-anak kita mengalami kerusakan akhlak dan memiliki budaya yang menyimpang sudah pasti akan mempengaruhi kestabilan suatu negara pada umumnya dan keselamatan serta keamanan setiap pribadi masyarakat pada khususnya.

Tidak ada yang bisa memungkiri besarnya pengaruh pendidikan pada anak-anak. Mendidik anak-anak tentu saja sangat memberikan pengaruh pada anak-anak dibandingkan mendidik orang yang sudah menginjak usia dewasa ibaratnya belajar di masa kecil sama seperti menulis di atas batu.[2]

Di dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali as. mengatakan,

Sesungguhnya hati (jiwa) anak muda sama seperti sebuah lahan yang kosong, benih apa saja yang dilemparkan di atasnya, akan diterima olehnya, maka sebelum hatinya menjadi keras dan pikirannya penuh, aku telah mengajarkannya adab dan mendidiknya.”[3]

Perang ideologi dan perang budaya juga dapat kita temui di zaman Rasulullah saw dan para Imam maksum pada saat itu, di dalam sebuah hadis dari Amirul Mukminin Ali as berkata,

“Ajarkanlah kepada anak-anak kalian hal yang bermanfaat menurut Allah bagi mereka, jangan sampai murji’ah (sebuah akidah) menguasai mereka melalui pemikirannya… .”[4]

Ditekankan dalam hadis-hadis tersebut untuk mendidik anak-anak sebelum pikiran mereka dipenuhi oleh pemikiran-pemikiran yang salah dan budaya-budaya yang menyimpang.

Sayid Ali Khamenei, beliau berpendapat tentang perang budaya yang di Republik Islam Iran. Beliau mengatakan bahwa antara pertukaran budaya dan penyerangan budaya terdapat berbagai macam perbedaan yang signifikan. Di antaranya adalah pertukaran budaya biasanya dilakukan dalam aspek yang positif, dan kedua belah pihak dapat memilih budaya mana yang dapat diadopsi oleh mereka. Sedangkan ketika terjadi penyerangan dalam perang budaya terhadap suatu negara, yang terjadi adalah pihak yang diserang tidak dapat memilih budaya mana yang diadopsi olehnya, sehingga kerap kali budaya yang masuk adalah budaya yang negatif.[5]

Menurut beliau penyerangan yang dilakukan ketika terjadi perang budaya sama halnya aktivitas kebudayaan merupakan hal yang terjadi secara perlahan-lahan dan berangsur tanpa adanya keributan.[6]

Suatu bangsa tidak akan merasa telah dirasuki oleh budaya asing dan akan mengetahuinya setelah hal tersebut menyebar dan menghancurkan kehidupan masyarakatnya. Kita dapat melihat dampak dari kelalaian sebagian tenaga pendidik, dengan adanya budaya negatif yang seringkali kita temui di kalangan anak-anak muda saat ini, seperti sikap konsumerisme dan perilaku tidak mengenal batasan agama dan norma-norma kehidupan bermasyarakat. Anehnya mereka menganggap hal-hal tersebut adalah tren masa kini yang telah menjadi gaya hidup remaja saat ini.

Sumber Pendidikan

Sayid Ali Khamenei berkata,

“Rasulullah saw mengawali pendidikan dengan mendidik dirinya sendiri dan mendidik keluarga beliau… .[7]

Dapat kita pahami bahwa apa yang diajarkan Rasulullah saw dan menjadi tuntunan di dalam Islam adalah; sejatinya masalah pendidikan harus dikembalikan pada diri kita sendiri dan kepada keluarga kita sebagai asal mula pembentukan diri, karena seseorang tidak dapat mendidik orang lain sebelum dia mendidik dirinya sendiri. Ibarat sesuatu yang tidak memiliki cahaya, tidak akan sanggup bersinar dan memberikan cahaya bagi yang lain, ketika dia sendiri tidak memiliki cahaya tersebut.  

Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa kita diharuskan untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari siksa api neraka.[8]  Hal ini menunjukkan bahwa di dalam Islam kita semua bertanggung jawab atas diri kita dan keluarga kita. Setiap individu dan keluarganya bersama-sama membentuk suatu tatanan masyarakat yang mempengaruhi takdir suatu bangsa.

Terkadang kita melihat bahwa keluarga telah melupakan peranannya yang sangat penting dalam mendidik anak dan kemudian menyerahkan pendidikan anak sepenuhnya kepada sekolah. Padahal sejatinya keluarga adalah tempat pertama dimulainya pendidikan anak.

Keluarga adalah partikel terkecil pertama di masyarakat dan merupakan faktor utama pewarisan kebudayaan, pemikiran, akhlak, adat istiadat dan kasih sayang dari generasi ke generasi selanjutnya. Di antara semua anggota keluarga, ibulah yang paling banyak memberikan pengaruh pada anak-anak. Khususnya keluarga yang hidup secara alami dan natural sesuai dengan norma-norma Islam, yang mana dengan demikian ASI adalah makanan utama bagi bayi dan dekapan ibu merupakan tempat yang paling baik untuk mendidik dan merawat anak-anak.[9]

Di dalam keluarga islami, ibu mempunyai peran yang penting dalam dunia pendidikan anak. Sosok ibulah yang membentuk masa depan anak. Seorang ibu harus merawat dan memelihara tunas yang baru saja muncul agar dapat tumbuh berkembang serta menjaganya dari berbagai gangguan yang dapat menghancurkan kehidupannya.[10]

Rahbar melanjutkan bahwa ketika seorang ibu mengutamakan pendidikan anak, maka dia akan membekali anak-anaknya dengan bekal kebudayaan berupa kisah-kisah hikmah, hukum-hukum fikih, cerita-cerita dari Al-Quran dan pengalaman yang bermanfaat. Hal itu akan memajukan generasi suatu bangsa.[11]

Memperkenalkan anak dengan pengetahuan dasar dan kearifan Islam adalah tugas seorang ibu. Dapat dimulai dengan menceritakan kisah-kisah penuh hikmah yang diambil dari Al-Quran ataupun buku-buku serta pengalaman yang bermanfaat.

Di samping itu, kita tidak dapat memungkiri betapa pentingya peran anggota keluarga yang lain. Seperti peran seorang ayah dalam mendidik anak-anaknya. Karena proses pendidikan anak di dalam keluarga tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya bantuan anggota keluarga yang lain dan sejatinya semua anggota keluarga dapat memberikan peran yang signifikan demi berlangsungnya pendidikan anak di dalam sebuah keluarga.

Oleh karenanya, memperkokoh ikatan keluarga dan menguatkan peranan yang dimiliki dalam keluarga dengan berfokus pada peran seorang ibu sebagai tenaga pendidik adalah tugas kita semua untuk melindungi anak-anak kita dari dampak perang budaya saat ini dan masa-masa mendatang. Mewujudkan pendidikan anak yang layak dan bermutu harus dimulai dari keluarga sebagai tempat awal mula pendidikan itu sendiri. Karena tidak ada warisan dari orang tua yang lebih baik dari adab dan pendidikan yang benar.[12]

Selamat Hari Anak Nasional!

Ditulis oleh Saleha Abd


[1]. Ucapan Rahbar dalam pidatonya di hadapan kaum perempuan Khuzestan pada tanggal 10 Maret 1997

[2] . Diwaan Imam Ali , hal 186

[3] . Nahjul balaghah, surat 31

[4] . Al khisaal, jil.2, hal.614

[5] . Ucapan Rahbar dalam pidato beliau di hadapan para pekerja di bidang kebudayaan pada tanggal 12 agustus 1992

[6] . ibid

[7] . Ucapan Rahbar dalam pidatonya di hadapan kaum perempuan Khuzestan pada tanggal 10 Maret 1997

[8] . Alquran, surat At-Tahriim ayat 6

[9] . Ucapan Rahbar dalam pidatonya di hadapan kaum perempuan Khuzestan pada tanggal 10 Maret 1997

[10] . Peranan ibu dalam mendidik anak, Dr. Ali Qaimi

[11] .Ucapan Rahbar dalam pidatonya pada tanggal 10 Maret 1997

[12] . Diterjemahkan dari riwayat Imam Shadiq as: “sesungguhnya sesuatu yang bermanfaat yang diwariskan para ayah bagi anak-anaknya  bukanlah harta melainkan adab dan pendidikan, karena harta akan menghilang dan yang tersisa adalah adab dan pendidikan” (kitab Al Kaafi, jil.8, hal.150) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *