Merdeka Bersama Al-Husain adalah Penyucian Hati

HPI – Di bulan Muharram terjadi sebuah peristiwa yang sangat besar yang tidak akan pernah dilupakan dalam sejarah, yaitu musibah pembantaian cucu Nabi Al-Husain as. Imam Husain as bukanlah seorang yang biasa. Beliau memiliki keutamaan-keutamaan yang sangat agung. Diriwayatkan dari Rasulullah saww, “Husain dariku dan Aku dari Husain. Allah mencintai siapa yang mencintai Husain.”

Riwayat ini mengungkap bahwa imam Husain As adalah dari Rasulullah dan begitu juga sebaliknya, di samping itu, riwayat ini juga mengungkap bahwa kecintaan terhadap imam Husain merupakan kecintaan terhadap Allah SWT. Imam Husain as juga menjadi sebuah barometer dan standar kecintaan terhadap Rasulullah saw. Dikatakan sesiapa yang mencintainya berarti mencintai Rasulullah dan sesiapa yang membencinya berarti membenci Rasulullah.

Bahkan di dalam sebuah Riwayat disebutkan bahwa semua mata menangis pada hari kiamat kecuali mata yang menangisi musibah Al-Husain, mata-mata itu akan tertawa Bahagia dengan nikmat surga. Di dalam Riwayat lainnya disebutkan bahwa seluruh tangisan adalah makruh kecuali tangisan untuk Al-Husain as.

Walaupun majelis duka imam Husain identik dengan tangisan, namun pergerakan itu bukan hanya tangisan dan kesedihan, di dalamnya ada sebuah nilai gerakan dan spirit melawan kaum penindas.

Setiap Gerakan di dunia terinspirasi dengan spirit perjuangan Imam Husain as, tidak terkecuali kemerdekaan Indonesia yang diprakarsai oleh Soekarno.

Bung Karno mengatakan, “Husain adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di mana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.”

Karena bulan Muharram tahun ini bertepatan dengan bulan Agustus, bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Maka alangkah baiknya untuk membahas kemerdekaan dari dua perspektif, perspektif keindonesiaan dan perspektif keislaman.

Merdeka sendiri di dalam KBBI memiliki arti bebas dari perhambaan, penjajahan, dan sebagainya; berdiri sendiri; tidak terkena atau lepas dari tuntutan; tidak terikat, tidak bergantung kepada orang atau pihak tertentu; leluasa.

Menurut kacamata keindonesiaan sendiri merdeka adalah bebas dari segala bentuk penjajahan. Setelah sekian lama dijajah, para pejuang bangsa bangkit dan melawan para penjajah untuk membebaskan negerinya.

Sedangkan menurut perspektif Islam, merdeka memiliki arti yang lebih luas. Di dalam sebuah Riwayat dari Imam Hasan as,”Janganlah engkau menjadi hamba atau budak orang lain, karena sesungguhnya engkau dilahirkan dalam keadaan merdeka (bebas).”

Banyak Riwayat-riwayat dan ayat-ayat yang menyinggung tentang kemerdekaan dan kebebasan menurut kacamata Islam. Namun, intinya kebebasan menurut Islam, bukan berarti bebas melakukan apa pun tanpa batasan. Islam memiliki batasan-batasan untuk mengatur kebebasan setiap manusia. ibaratnya seorang penggembala yang memberi kebebasan kepada hewan ternaknya untuk mencari makanannya sendiri, namun penggembala tetap memberikan Batasan-batasan tertentu agar hewan-hewan ternaknya tidak hilang.

Begitu juga syariat dalam Islam, mengatur dan membatasi kebebasan setiap manusia agar mereka tidak hilang dan tersesat di jalan kebenaran.

Sehingga sumber kebebasan menurut Islam adalah terbebasnya ruh dan jiwa kita dari belenggu-belenggu dunia. Sebagaimana yang dikatakan Imam Ali As, “Barang siapa yang meninggalkan syahwatnya maka ia adalah orang yang merdeka.”

Musuh terbesar manusia adalah hawa nafsunya sendiri. Rasulullah saw menyebutkan bahwa perang melawan hawa nafsu sebagai jihad akbar. Manusia dikatakan merdeka ketika telah menang dalam peperangannya melawan hawa nafsunya.

Tujuan dari perjuangan Imam Husain as adalah untuk memperbaiki umat, menebarkan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Pelajaran yang kita dapatkan dari perjuangan itu adalah untuk selalu berjuang melawan hawa nafsu dan berjuang untuk terus menyucikan jiwa dan hati.

Sehingga merdeka Bersama Al-Husain adalah bebas dari belenggu hawa nafsu dan segala bentuk penyakit hati.

Ceramah malam ke-1 Muharram 1443 H, Haiat Hubbul Husein.

2 komentar pada “Merdeka Bersama Al-Husain adalah Penyucian Hati

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *