Mengintip Suasana Ramadan di Iran

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, bulan itu ibarat bonus yang diberikan Allah kepada para hamba-Nya, apabila mereka merasa gagal meraup pahala selama sebelas bulan sebelumnya. Di bulan nan agung itu Ia hanya memberikan kesempatan selama tiga puluh hari saja, agar mereka bisa menjadikannya sebagai ajang dan momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah swt., guna meraih ridha-Nya. Keagungan dan keistimewaannya menjadi salah satu alasan jika bulan suci itu dijuluki sebagai tuan dalam satu tahun. Diturunkannnya Al-Quran adalah salah satu ekstensi (misdaq) keagungan bulan suci nan agung itu.

Bulan ramadan adalah bulan yang sepanjang waktunya diliputi oleh rahmat-Nya, bulan itu adalah bulan yang terbaik di antara bulan-bulan lainnya, hari-harinyanya merupakan hari terbaik, malam-malamnya adalah malam terbaik, serta waktu dan jamnya adalah jam terbaik. Di bulan yang agung itu napas manusia menjadi napas yang memuji Allah, tidur manusia pun diganjar sebagai pahala, pahala amalan pun akan dilipatgandakan, serta doa para hambanya akan mustajab, maka tak heran jika bulan mulia itu selalu dinanti oleh setiap muslim di seluruh penjuru dunia. Mereka akan menyambutnya dengan sukacita dengan kegembiraan yang berbeda daripada bulan-bulan lainnya.

Di Republik Islam Iran sendiri, negara yang berhasil menumbangkan pemerintahan otokrasi pimpinan Reza Shah Pahlevi itu, begitu datangnya bulan suci Ramadan disambut dengan suka cita. Namun kemeriahan, keceriaan dan cara menyambutnya berbeda dengan negara-negara lain, tentunya  karena setiap negara memiliki adat, kultur dan tradisinya masin-masing.

Masyarakat Iran memiliki pemimpim spiritual yang harus ditaati, dia adalah pemimpin tertinggi di Republik Islam Iran, ”Ayatullah Sayid Ali Husaini Khamenei”. Oleh karena itu tidak ada ada perbedaan mengenai penentuan satu Ramadan, sehingga semuanya kompak satu suara dalam melaksanakan ibadah puasanya. Inilah salah satu aspek pembeda antara Iran dengan negara-negara lain, di mana selalu ada perbedaan pendapat tentang penetapan awal Ramadan, tak terkecuali di negeri Indonesia.

Hal lain yang menjadi perbedaan antara Iran dengan negara lainnya, sebagai contoh, jika di Indonesia masyarakat menyambutnya dengan gegap gempita, iklan-iklan sirup dan aneka jenis makanan mulai menghiasi TV, papan iklan dan poster dipampang di sepanjang jalan raya, grup musik mengeluarkan album atau single realigi, seluruh chanel TV berlomba-lomba menayangkan sinetron realigi sejak waktu sahur hingga menjelang adzan maghrib, bahkan sebagian iklan-iklan perempuan pun mendadak mengenakan hijab. Tetapi jika melihat suasana  Ramadan di Iran, seperti tak membedakan dengan bulan-bulan lainnya, selain bulan Ramadan, tayangan Islami di layar kaca TV, iklan-iklan perempuannya sudah berhijab sedari dulu dan sudah menjadi siaran baku dari waktu ke waktu.

Di akhir-akhir bulan Sya’ban, banyak yayasan-yayasan memanfaatkan kesempatan bulan mulia itu untuk berbagi kepada mereka  yang membutuhkan. Sumbangan berupa sembako, pakaian dan barang yang layak konsumsi lainnya akan didistribusikan kepada kalanagn fakir miskin. Namun sebetulnya sumbangan sembako ini tak terikat hanya disaat menyambut bulan suci saja, melainkan di bulan-bulan lain juga selalu berjalan dengan baik. Meskipun kondisi perekonomian negara yang carut-marut akibat sanksi sepihak oleh negara ”adi kuasa”, Iran tetap konsisten menjalankan tradisi mulianya itu. Tak terkecuali di saat pandemi Covid seperti sekarang ini, pemerintah Iran tak pernah berhenti untuk menyalurkan bantuan-bantuannya kepada mereka yang membutuhkan, sekalipun harus mengekspor ke luar Iran.

Salah satu suasana yang akan terlihat di saat bulan suci Ramadan adalah, masyarak Iran akan mengadakan sebuah tradisi Shalawat Khani, ini adalah salah satu tradisi kuno masyarakat setempat, yaitu dengan membacakan bait-bait puisi di sepertiga malam, mereka akan membacakannya hingga azan subuh tiba, ketika azan subuh semakin dekat, mereka akan menyertakan di setiap bait puisinya dengan sekali sholawat, sebagai tanda  atau kode bahwa waktu sahur semakin sempit. Setelah itu, si penyair akan membacakan doa sahur lalu kemudian ditutup dengan azan subuh. Namun sayangnya tradisi ini sudah jarang ditemukan seiring majunya perkembangan zaman, di era sekarang ini mereka lebih memilih memutar kaset, menyetel siaran-siaran dari radio melalui pengeras suara.

Selain tradisi Shalawat Khani, ada juga tradisi lain di kala waktu sahur tiba. Di beberapa kota untuk membangunkan warganya, mereka menggunakan alat musik seperti drum, gendang, trompet dan lain sebagainya. Di kota Kermanshah misalnya, akan ditemui tradisi unik di saat membangunkan warganya, yaitu mereka akan bermain tanbur (alat musik dawai yang berleher panjang seperti gitar), adapun di Khaneqah-khaneqah (bangunan khusus tempat perkumpulan Thariqah Sufi) akan menggunakan daf sebagai alat musik di kala waktu sahur, daf adalah alat musik drum bingkai Persia yang digunakan dalam musik populer dan klasik, bentuknya seperti hadrah namun berukuran lebih besar.

Jika di Indonesia ada tradisi ngabuburit di kala menjelang azan magrib, di negeri Persia juga ada tradisi yang mirip dengan ngabuburit, salah satu tradisi yang terdapat di negeri Salman Al farisi itu, ketika menjelang adzan magrib, masyarakat setempat akan bermain drum band. Letak keunikan permainan itu adalah bilangan pukulannya, alat musik itu hanya akan dipukul sebanyak tiga kali pukulan per satu kali permainan dengan berjeda, jika pukulannya semakin kencang dibanding permainan sebelumnya, maka itu adalah pertanda bahwa waktu azan magrib semakin dekat.

Iran yang mayoritas penduduknya muslim dengan merepresntasi Syiah terbesar di dunia itu juga memiliki tradisi lain, ada tradisi Iyadat-e bimaran, yaitu menjenguk kerabat atau keluarga yang sakit, mereka akan memberikan bingkisan sebagai hadiah kepada si pasien, sebagai ungkapan janji kepada Allah seraya meminta kesembuhan terhadap pasien.

Buka puasa bersama adalah sebuah pemandangan yang mudah ditemui di seluruh negara muslim, jika di sebuah negara mungkin di satu tempat akan mengadakan buka puasa bersama hanya beberapa kali saja, namun di kota-kota Iran, mereka menyediakan hidangan takjil selama tiga puluh hari penuh. Seperti di kota Masyahd, dan Qom yang terdapat pusara suci keturunan nabi selalu mengadakan buka puasa  sekala besar selama sebulan penuh. Di pemandangan unik itu akan terlihat bahwasannya mereka masih menjaga tradisi dan budayanya, yaitu mereka gemar Iftar dengan kurma, roti, keju, sayuran segar dan teh hangat.

Ihya Lailatul Qadar, adalah salah satu suasana yang paling mencolok di antara pemandangan lainnya, masjid-masjid di Iran akan dipadati lautan manusia, tak hanya di masjid saja, saking membeludakny, jumlah jemaah mereka akan memadati hingga halaman bahkan sampai ke tepi jalan raya, ada juga yang  melaksnakan amalan-amalannya di pekuburan para Syuhada, dengan setitik cahaya lampu dan sehelai tikar. Mereka akan melaksanakan ritual malam agung itu dengan penuh khidmat, mungkin akan terasa aneh bagi yang belum pernah melihat pemandangan langka seperti itu.

Pada hari jumat terakhir bulan ramadan, peringatan hari Al Quds akan menghiasai sepanjang jalan-jalan di seluruh kota-kota Iran, semua warga Iran akan turun ke jalan-jalan untuk berpawai guna menyuarakan kebebasan Palestina, sebetulnya pemandangan ini sudah lumrah bagi masyaraat Iran setelah Imam Khomenei mewasiatkannya, namun yang berbeda dari itu adalah terdapat satu tradsisi lain yang bernama Jameh Al Wedaii’, Tradisi unik itu bisa ditemukan di kota Shiraz selatan, mereka akan berangkat ke mesjid untuk berdoa dan menyampaikan hajat agar keinginannya terwujud. Tradisi ini dihadiri oleh gadis-gadis muda yang hendak menikah, ada juga pasangan-pasangan yang tidak subur dan berharap segera memiliki keturunan.

Tidak seperti di Indonesia, suasana mudik setelah lebaran mungkin tidak ditemukan di negeri Persi. Bagi mereka Idul Fitri bukan momen penting yang mengharuskan untuk pulang kampung, mereka punya hari libur pasca lebaran hanya 2 sampai 3 hari saja, setelah itu mereka akan kembali beraktifitas seperti sedia kala. Adapun tradisi mudik di Iran adalah di saat pergantian tahun baru Iran saja, selama kurang lebih empat belas hari, mereka akan memanfaatkan untuk bercengkrama dengan keluarga besar di kampungnya. Itulah keunikan-keunikan suasana bulan Ramadan di Iran, negara timur tengah yang terletak di Asia Barat itu.

Penulis: Rizal Padilah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *