Mengenal Kitab Mafatih Al-Jinan

HPI – Kitab Mafatih al-Jinan karya Syeikh Abbas al-Qummi adalah salah satu kitab doa yang paling populer di kalangan mazhab Syiah. Kitab ini berisi doa, munajat, ziarah, amalan-amalan khusus setiap hari, bulan, dan momen-momen tertentu, serta adab-adab, yang diriwayatkan dari Nabi, Imam, dan ulama Islam.

Mafatih al-Jinan ditulis dan dipublikasikan pertama kali di Masyhad pada tahun 1344 H/1925 M.

Mafatih al-Jinan diterima dengan sangat baik segera setelah diterbitkan. Saat ini, kitab ini dapat ditemukan di hampir semua rumah, masjid, dan pusat-pusat keislaman mazhab Syiah. Menurut penuturan anaknya, beliau menulis kitab ini dalam keadaan memiliki wudhu[1].

Latar belakang Syeikh Abbas Al-Qummi menulis kitab ini adalah, karena permintaan dari beberapa orang pada saat itu untuk menulis sebuah kitab yang berisi doa-doa yang sumbernya dapat dipertangungjawabkan keasliaannya. [2]

Pada cetakan pertamanya, kitab Mafatih al-Jinan, berisi beberapa surah Al-Quran, secara umum isi kitab ini dapat dibagi menjadi beberapa bagian.

Bagian pertama berisi kumpulan doa-doa, termasuk ta’qibat salat, amalan-amalan siang-malam, harian, hari-hari dalam seminggu, beberapa salat terkenal, seperti salat Ja’far at-Thayyar dan lain-lain serta munajat-munajat.

Bagian kedua berisi amalan-amalan lengkap dalam setahun.

Bagian ketiga berisi ziarah-ziarah, termasuk adab-adab ziarah.

Kemudian pada edisi keduanya, Syaikh Abbas Al-Qummi menambahkan beberapa hal yang dianggap penting untuk para pembaca seperti yang terhimpun dalam bagian Mulhaqat, seperti Doa perpisahan bulan Ramadhan, Khutbah Idul Fitri, Ziarah Jamiah Aimmah al-Muslimin, Ziarah perpisahan setelah mengunjungi makam para imam suci, Doa saat keghaiban Imam Mahdi dan adab Ziarah Naibah.

Biografi Syeikh Abbas Al-Qummi

Syeikh Abbas Al-Qummi, yang dikenal sebagai Muhaddis Qummi, adalah salah satu perawi hadis Syiah paling produktif di abad keempat belas Hijriyah. Ia lahir di kota Qom, Iran pada tahun 1294 H (1879 M). Saat usianya dua puluh dua tahun ia pergi ke Najaf dan tinggal di sana selama enam tahun. Setelah itu, dia kembali ke Iran untuk meneruskan kegiatan belajar-mengajarnya  di Qom hingga  akhir hayatnya, yaitu sampai dia berumur enam puluh lima tahun. Ayahnya, Mohammad Reza, adalah seorang ulama yang menjadi rujukan masyarakat dalam masalah syariat-syariat agama Islam.

Setelah menyelesaikan jenjang Muqaddimah dan Sutuh dari para ulama pada masanya di Hauzah Ilmiah Qom, pada  1316 H Syeikh Abbas Al-Qummi hijrah ke Najaf untuk melanjutkan pendidikan di jenjang tinggi ilmu fikih dan usul. Karena beliau memiliki potensi dan bakat yang signifikan dalam ilmu Hadis, beliau banyak menghabiskan waktunya selama di Najaf untuk berguru kepada ulama fikih dan hadis yang sangat terkenal di zamannya, yaitu Muhammad Taqi Tabarsi yang terkenal dengan Muhaddis Nuri.

Pada tahun 1340 H/ 1921 M atas permintaan ulama-ulama pada masanya, Ayatullah Syeikh Abdul Karim Haeri Yazdi memanggil Syeikh Abbad Al-Qummi untuk kembali ke hauzah ilmiah Qom untuk mengajar di sana. Tak berselang lama, tepatnya pada tahun 1344 H, beliau menyelesaikan karya terbesarnya dalam bidang hadis, Safinah Al-Bihar wa Madinah Al-Hikam wa Al-Atsar  (yang merupakan daftar subjek rinci hadis-hadis yang tertulis dalam kitab Bihar Al-Anwar karya Allamah al-Majlisi ). Dengan demikian dapat dikatakan bahwa beliau menghidupkan kembali kitab besar Bihar Al-Anwar dan mempersenjatai para pendakwah untuk membela Islam. Dalam buku ini, selain daftar hadis dan ayat Alquran, Syekh Abbas Qomi terkadang mencoba mengungkapkan beberapa topik penting dan hasil penelitiannya yang mendalam, dan di samping itu, beliau juga menuliskan biografi singkat beberapa ulama besar dari kalangan Syiah dan Sunni, para cendekiawan, bahkan beliau juga menambahkan beberapa penyair dan penulis.

Beliau mendedikasikan hidupnya untuk Islam. Beliau menghabiskan waktunya 17 jam sehari untuk membaca, belajar dan menulis. Beliau menjadi sebuah model di bidang menghidupkan kembali pemikiran Syiah.

Beberapa keutamaan beliau adalah, beliau seorang yang ‘arif billah dan mempunyai ilmu yang tinggi, zuhud, tidak memikirkan kedudukan dan kekayaan, seorang yang berpengetahuan, muhaqqiq, penulis dan penerjemah.

Beliau wafat pada 1359 H /1940 M di Najaf dan dimakamkan di dalam sekitaran Makam Suci Imam Ali as.

Penulis: Yek Zaky Hinduan


[1] Qummī, Mafātīḥ al-jinān, hal. 28.

[2] Qummī, Mafātīḥ al-jinān, hal. 12.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *