Maka Balaslah dengan yang Lebih Baik atau yang Sepadan

HPI – Kita sebagai Seorang Muslim terlebih seorang pecinta Ahlulbait tidak asing dengan shalawat yang disampaikan kepada Rasulullah dan keluarganya.

Hal ini juga karena kita diperintahkan langsung oleh Allah swt untuk bershalawat kepada Nabi sebagaimana Ia dan para Malaikatnya juga bershalawat kepadanya;

Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh hormat kepadanya. [Surat Al-Ahzab: 56]

Dan Nabi sendiri memerintahkan kita untuk tidak bershalawat dengan Shalawat yang terputus. Sebagaimana seorang mufassir terkenal Ahlussunah Suyuthi, dalam kitabnya Durul mansur dalam menafsirkan ayat di atas yang juga mengutip riwayat berkenaan dengan hal tersebut;

Nabi saww bersabda:

“Jangan kalian bershalawat kepadaku dengan Shalawat yang terputus. Para Sahabat bertanya; ya Rasulullah, apa itu shalawat yang terputus? Yakni kalian mengucapkan; ya Allah sampaikanlah shalawat kepada Muhammad. Tetapi katakanlah; ya Allah sampaikanlah shalawat kepada muhammad dan keluarganya (Allahumma Shalli Ala muhammad Wa Aali muhammad).”

Lalu tahukah kita seberapa besar keutamaan dari bershalawat kepada Rasul dan keluarganya? Mari kita mulai dari firman Allah Swt berfirman:

وَإِذَا حُیِّیتُم بِتَحِیَّةࣲ فَحَیُّوا۟ بِأَحۡسَنَ مِنۡهَاۤ أَوۡ رُدُّوهَاۤ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَلَىٰ كُلِّ شَیۡءٍ حَسِیبًا

Dan apabila kamu diberi salam dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah yang sepadan dengannya. Sungguh Allah memperhitungkan segala sesuatu. [Surat An-Nisa’ 86]

Dari Ayat diatas bisa dimengerti dengan jelas ketika kita diberi salam penghormatan oleh seseorang, maka seyogianya kita membalasnya dengan yang lebih baik atau yang sepadan.

Lalu begitu juga halnya ketika kita bershalawat kepada seorang yang paling agung di sisi Allah, walaupun mereka tidak lagi di dunia, namun kitak tidak boleh sekali kali menyangka bahwa mereka tidak hidup, bahkan terhadap orang yang mencapai maqam syahid saja kita tidak boleh menggapnya mati, apalagi dengan orang yang maqamnya lebih daripada itu.

Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup, di sisi Tuhannya lagi mendapatkan rezeki. [Ali Imran:169]

Maka sudah barang tentu mereka akan membalas shalawat kita. bahkan dengan yang lebih baik dari Shalawat yang kita sampaikan kepada mereka, karena meraka berada pada puncak dalam segala bentuk kebaikan, sudah pasti apa yang keluar dari mereka berada pada puncaknya.

Dan sesungguhnya Engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang sangat agung. [Al-Qalam: 4]

Dan dalam Ziarat Jami’ah kabirah termaktub:

إِنْ ذُكِرَ الْخَيْرُ كُنْتُمْ أَوَّلَهُ..

Jika sebuah kebaikan disebut maka kalian (Rasul dan Keluarganya) berada di puncaknya. [Mafatih Al jinan Syekh Abbas Qomi – Ziarat Jamiah Kabirah]

Sekalipun mereka membalasnya dengan yang sepadan tentu balasan tersebut tetap akan unggul dalam sisi kualitas, hal ini karena setiap kalimat yang keluar dari mulut yang suci akan jauh lebih baik dari kalimat yang keluar dari mulut yang tidak suci walaupun yang dikeluarkan adalah sesuatu yang suci.

Lalu bagaimana sebenarnya gambaran dari balasan atau jawaban shalawat yang kita haturkan kepada rasul dan keluargannya.

Mengenai ini Surat At-Taubah ayat 103 mencoba menjelaskannya;

خُذۡ مِنۡ أَمۡوَ ٰ⁠لِهِمۡ صَدَقَةࣰ تُطَهِّرُهُمۡ وَتُزَكِّیهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَیۡهِمۡۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنࣱ لَّهُمۡۗ وَٱللَّهُ سَمِیعٌ عَلِیمٌ

Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan bershalawatlah untuk mereka. Sesungguhnya shalawatmu itu membuat tenteram hati mereka dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. [Surat At-Taubah 103]

Dalam kitab Mustadrak al-wasail, jld 7, hal 136 diriwayatkan:

Ketika ayat 103 surat At-taubah yang berbunyi; Bershalawatlah untuk mereka! turun dan Rasul memerintahkan para sahabat untuk menunaikan Zakat, maka orang pertama yang menunaikan Zakat adalah seorang yang bernama Abu Aufa. maka Rasul saww mendoakannya seraya berkata: “Allahumma Shalli ala Abi Aufa wa Aali Abi Aufa (Ya Allah sampaikanlah Shalawat kepada Abu Aufa dan keluarganya)”.

Maka dari sini kita bisa memahami ketika Allah memerintahkan kita bershalawat kepada Rasul dan keluarganya, disisi lain Allah memerintahkan setiap Hambanya untuk membalas salam penghormatan dengan yang lebih baik, atau yang sepadan. maka harus kita sadari bahwa Rasul dan Keluarganya akan menjawab shalawat dan salam kita dengan yang lebih baik atau dengan yang sepadan walaupun pada dasarnya tetap akan lebih baik seperti yang telah kita bahas sebelumnya.

Maka setelah ini kita tidak perlu heran dengan balasan atau imbalan dari bershalawat kepada Rasul dan keluarganya sebagaimana yang termaktub didalam kitab-kitab hadis.

Rasul saww bersabda:

“Barang siapa bershalawat padaku dang penuh keimanan dan keikhlasan maka hendaklah ia memulai amalnya dari awal. (kerena amal-amal yang buruk telah dibersihkan dari catatan amalnya)”. [Wasailus syiah, jld 4, hal 1213]

Rasul saww bersabda:

“Barang siapa bershalawat kepadaku sekali tidak tersisah dosa sekecil atom pun darinya”. [Jami Al akhbar, jld 1, hal 59]

Rasul saww bersabda:

“Tidak akan masuk neraka sesiapa yang bershalawat kepadaku”. [Biharul Anwar, jld 91, hal 64]

Imam Ali as berkata:

“Shalawat kepada Nabi dan Keluarganya lebih cepat melenyapkan dosa, dari pada air meleyapkan api”.  [Tsawabul a’mal syekh Saduq, hal 185]

Imam Baqir as berkata:

“Tidak ada dalam timbangan di akherat yang lebih berat dari bershalawat kepada Rasul dan keluarganya dan sungguh seseorang pada waktu itu amal-amalnya di timbang namun terlihat ringan kemudian pahala shalawat diletakan diatasnya, seketika timbanganya menjadi berat”. [Wasailus syiah, jld 4, hal 1210]

Imam Shadiq as berkata:

“Jika nama Nabi saww disebut maka perbanyaklah bershalawat kepadanya, maka sesiapa yang bershalawat kepada nabi satu shalawat saja, maka Allah bersama seribu shaf para Malaikat akan bershalawat kepada orang tersebut seribu shalawat dan tidak tersisah dari makhluknya kecuali bershalawat kepada hamba tersebut, mengikuti shalawat Allah dan Malaikatnya kepadanya. Barang siapa tidak tertarik dengan hal ini, maka dia adalah seorang yang jahil nan sombong, dan sungguh Allah, Rasul dan Ahlulbait rasulnya berlepas diri darinya”. [Al-Kafi jil 2, hal 492]

Dan masih banyak lagi dari keutamaan bershalawat kepada nabi, hanya saja semua balasan dan imbalan ini akan berpengaruh Ketika kita beriman dan ikhlas seperti termaktub dalam salah satu hadis diatas, dan surat Al-Munafiqun ayat 6 juga menjelaskanya dari sisi lain:

Sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) memohonkan ampunan untuk mereka (munafiqin) atau tidak engkau mohonkan ampunan, Allah tidak akan pernah mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Atau surat Al maidah ayat 27 menjelaskan dari sisi keikhlasanya:

Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.

Oleh: Muhammad Al-Hakim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *