Mahsa Amini, Kegagalan Para Musuh dan Iran yang Makin Tangguh

HPI Iran – Jagat media kembali dihebohkan dengan gelombang demonstrasi dan kerusuhan di Iran. Demo kali ini bertema tentang perempuan dengan slogan “Zan – Zendegi – Azadi” yang artinya “Wanita – Kehidupan – Kebebasan”

Demo tersebut dimulai pada 16 September menyusul kematian Mahsa Amini, wanita 22 tahun asal Saqqez, Kurdistan Iran, yang konon dibunuh polisi.

Rumor dibunuhnya Mahsa menyebar dengan cepat. Pihak kepolisian telah mengeluarkan pernyataan yang membantah isu bahwa Mahsa tewas akibat penganiayaan polisi. Meski begitu, demo yang sudah tersulut tak dapat dipadamkan begitu saja.

Isu terbunuhnya seorang perempuan akibat penganiayaan polisi karena melanggar aturan hijab sukses membakar emosi massa. Massa turun ke jalanan Teheran, berkumpul di rumah sakit tempat Mahsa meninggal dan pos polisi tempat Mahsa ditahan.

Di sisi lain, influencer-influencer seperti Masih Alinejad dan media-media anti Iran seperti Voice of America, BBC Persian, CNN Persian, Manoto serta Iran International menangkap umpan tersebut, mengambil alih baton orkestra dan langsung mendikte jalannya demonstrasi yang seketika berubah menjadi kerusuhan besar-besaran.

Massa perusuh mengambil alih jalanan, menghancurkan puluhan bangunan fasilitas umum, membakar mobil polisi, ambulans, pemadam kebakaran. Mengeroyok dan membunuh aparat keamanan dan simpatisan pemerintahan dari sipil. Menyerang pusat-pusat keagamaan seperti Masjid, Husainiyyah, Mawkib.

Membakar Al-Quran, membakar simbol-simbol keagamaan seperti bendera Imam Husain serta membakar foto-foto pahlawan serta martir Iran. Membakar bendera Iran. Dan sembari meneriakkan slogan “Wanita – Kehidupan – Kebebasan” massa menarik hijab dari wanita berhijab di depan khalayak umum.

Semua itu terjadi sebelum hasil investigasi atas penyebab kematian Mahsa dirilis.

Setelah dirilis, hasil investigasi tersebut tidak menunjukkan tanda-tanda Mahsa menerima kekerasan fisik yang berakibat pada kematiannya. Mahsa menderita penyakit bawaan yang membuatnya harus kontrol ke dokter setiap bulan. Mahsa pernah mendapat operasi tumor Craniopharyngioma otak pada usia 8 tahun.

Ayah Mahsa mengatakan bahwa putrinya harus selalu diawasi karena penyakit bawaannya tersebut. Ayah Mahsa di depan jenazah putrinya di hadapan kamera televisi nasional menyaksikan bahwa tidak ada bekas pukulan apapun pada kepala dan tubuh Mahsa sebagaimana yang diisukan.

Meski begitu, hasil investigasi tersebut tidak lantas meredam kerusuhan. Kerusuhan ini merupakan momen yang ditunggu oleh sel-sel tidur sisa “barisan sakit hati” pasca kemenangan Revolusi Islam Iran 1979. Barisan tersebut diisi oleh anggota partai Marxis Iran MKO, kelompok-kelompok separatis Kurdistan (PAJAK dan Komlah) dan Baluchistan, bekas anggota intelejen Iran pra-revolusi SAVAK serta bekas anggota kerajaan Dinasti Pahlevi.

Sesaat setelah demonstrasi berubah menjadi kerusuhan, massa yang merasa ada sesuatu yang tidak beres langsung memisahkan barisannya dengan para perusuh. Sepekan setelah kerusuhan dimulai, masyarakat di seluruh kota di Iran bergabung dalam aksi damai mengecam massa perusuh yang menyebabkan ketidakstabilan di dalam negeri. Aksi tersebut digelar setelah masyarakat melaksanakan ibadah shalat jumat di kota masing-masing. Dua hari berselang, aksi yang sama dengan tuntutan yang sama kembali digelar bertepatan dengan peringatan wafat Rasulullah SAW.

Kerusuhan mereda di beberapa kota, namun di area-area sensitif seperti ibukota Teheran dan kota-kota perbatasan seperti Sanandaj, Masyhad dan Baluchistan terus berjalan seakan tak rela momen dan kesempatan jarang-jarang yang sudah ada di depan mata ini sirna begitu saja.

Kerusuhan tersebut mendapat ruh baru dengan kematian beberapa wanita muda lain seperti Nika Shakarami, Hadits Najafi dan Sarina Esmailzadeh. Media-media anti Iran dan influencer yang berada nun jauh disana kembali menyanyikan lagu lama bahwa wanita-wanita muda tersebut tewas akibat kebrutalan polisi. Kerusuhan berlanjut dengan kode-kode baru: Nika, Sarina dan Hadits.

Setelah ditelusuri dan disaksikan sendiri oleh keluarga masing-masing, terbukti bahwa Sarina bunuh diri dan Nika serta Hadits dibunuh oleh perusuh sendiri lalu menuding polisi bersalah atas kematian mereka. Belum lagi fake killing dan faked death yang membuat media-media anti-Iran dengan percaya diri menunjukkan bahwa jumlah korban jiwa dalam demonstrasi ini mencapai sekian dan sekian.

Pertanyaannya adalah mengapa semua ini terjadi? Hanya ada satu alasan. Untuk meruntuhkan Republlik Islam Iran. Tidak ada alasan lain. Untuk menyukseskan impian lama imperialisme global ini mereka rela melakukan apapun. Mereka sudah melakukan segalanya dalam empat dekade terakhir ini dan selalu gagal, kali ini, percobaan mereka yang tentu saja akan gagal ini adalah melalui isu perempuan, lebih tepatnya, isu hijab. Isu yang menurut Masih Alinejad adalah pilar paling lemah dari Republik Islam Iran. 

Sekilas tentang peraturan kewajiban hijab. Kenapa aturan hijab harus ‘dipaksakan’? Yang namanya peraturan ada unsur komitmen dan konsekuen atau ‘pemaksaan’ disitu. ‘Pemaksaan’ dalam peraturan itu sah apabila sesuai dengan ideologi, undang-undang dasar dan tatanan moral, termasuk moral agama, terutama di ranah sosial, bukan ranah individu demi menciptakan keteraturan. Hal ini berlaku di seluruh dunia. Bukan hanya di Iran.

Karena itu, jika Republik Islam Iran yang notabene adalah negara yang berasaskan syariat Islam dan diduduki oleh 90% muslim menetapkan kewajiban hijab maka hal tersebut adalah sah. Barangsiapa yang melanggarnya akan mendapat konsekuensi yang diatur oleh undang-undang yang berlaku. Lain halnya dengan negara X yang mengusung kebebasan sebagai asas negaranya, memberikan hak menjalankan syariat bagi pemeluk agama apapun namun menetapkan peraturan pelarangan hijab.

Dasar peraturan Hijab di Iran adalah undang-undang pemerintahan Islam yang berasaskan pada syariat. Justru menjadi kontradiktif apabila kewajiban berhijab ditiadakan dari peraturan pemerintahan yang mengaku mengusung Islam sebagai dasar negaranya.

Tak pelak dibalik kerusuhan ini adalah tangan kekuatan asing yang bermain. “Kekuatan asing? Jangan bilang Amerika dan Israel? Lagi-lagi Amerika dan Israel!” Ya, sayangnya iya. Lagi-lagi mereka, lagi-lagi mereka dan akan terus mereka. Akan terus mereka sampai mereka merealisasikan mimpi mustahilnya meruntuhkan Republik Islam Iran dan menundukkan Iran kembali ke cengkramannya seperti sebelum revolusi dulu.

Pemimpin Agung Revolusi Iran, Sayyed Ali Khamenei telah memprediksi sentimen sebagian orang yang mengatakan “Amerika lagi, Amerika lagi”. Untuk memperjelas keberadaan tangan-tangan asing dalam kerusuhan Iran kali ini beliau mengatakan:


“(Apa kalian perhatian?) kerusuhan itu terjadi dimana-mana di dunia. Coba kalian perhatikan di Eropa, di Prancis setiap beberapa waktu sekali terjadi kerusuhan besar-besaran di jalanan Paris. Saya ingin bertanya, apa pernah Presiden Amerika Serikat dan dewan parlemen AS mengatakan bahwa mereka mendukung para perusuh (di Prancis)? Apa pernah mereka mengirim pesan resmi yang menyatakan ‘kami bersama kalian’ pada para perusuh? Apa pernah media massa yang berafiliasi pada pemerintah dan konglomerat Amerika beserta kaki tangannya seperti (sayangnya) negara-negara Timur Tengah, antara lain Arab Saudi, dimana mereka juga ikut menyatakan dukungannya terhadap para perusuh di Iran, apa pernah terjadi hal ini sebelumnya? Apa pernah mereka memantau perkembangan gerak perusuh bahkan menyatakan akan memfasilitasi para perusuh dengan hardware atau software tertentu supaya mereka bisa berkomunikasi dengan baik?

Hal seperti ini tidak pernah terjadi di negara manapun di dunia. Tapi disini hal itu terjadi. Bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Bagaimana kalian tidak melihat adanya tangan-tangan asing disini? Bagaimana orang yang berakal tidak merasa bahwa dibalik kejadian ini ada tangan-tangan lain yang bermain, bahwa di balik layar ada siasat lain yang sedang berjalan?”

“Tentu saja mereka berpura-pura menunjukkan perasaan sedih karena ada seseorang yang meninggal dunia. Mereka bohong. Mereka sama sekali tidak sedih. Mereka justru gembira. Gembira karena akhirnya mereka punya alasan untuk berbuat sesuatu (terhadap Iran).”

“Bagaimana bisa kalian menuduh sebuah lembaga, sebuah yayasan yang bergerak untuk pelayanan masyarakat, dan memfitnah serta memaki mereka habis-habisan hanya karena sebuah ‘kemungkinan’ adanya kesalahan dari satu atau dua orang anggotanya. Kesalahan yang belum pasti dan belum ditelusuri kebenarannya. Hal ini sama sekali tidak masuk akal. (Karena itu, kerusuhan ini) tidak memiliki penyebab lain kecuali hasil campur tangan badan intelejen dan politisi asing yang selalu memusuhi Iran.”

Jika kesedihan mereka murni karena kematian tragis seorang wanita, kenapa mereka bungkam seribu bahasa ketika puluhan gadis muda Hazara siswi-siswi sekolah di Afghanistan tewas akibat serangan bom? Kemana LSM kemanusiaan, aktivis HAM serta artis-artis yang menyatakan solidaritas dengan perusuh Iran?

Kemana Kanada yang sampai mengeluarkan statemen Perdana Menteri terkait kerusuhan di Iran? Kemana Israel yang mengeluarkan surat resmi yang mengandung dukungan untuk perusuh di Iran? Kemana para politikus dan selebritis yang mencucurkan airmata buaya untuk Mahsa tapi diam seakan tak terjadi apa-apa di Afghanistan?

Sejak awal arah kerusuhan ini sudah jelas. Hijab dan Mahsa hanyalah batu loncatan, targetnya adalah Republik Islam itu sendiri. Perhatian tidak? Kenapa peristiwa ini terjadi bertepatan dengan pidato Presiden Iran Ebrahim Reisi pada sidang umum PBB? Kenapa peristiwa ini terjadi saat upaya restorasi ekonomi nasional Iran berlangsung?

Saat belenggu-belenggu yang menghambat kemajuan Iran satu persatu terbuka? Saat Iran menjabat tangan China untuk program ketahanan ekonomi jangka panjang? Saat Iran akan duduk bersama Rusia pada KTT Astana? Saat kekuatan-kekuatan dunia menyadari bahwa perlahan senjata satu-satunya mereka, yakni sanksi-sanksi terhadap Iran perlahan sudah mulai kehilangan tajinya?

Jawabannya hanya satu. Karena mereka tahu kemajuan Iran sedang mengalami percepatan yang luar biasa dan mereka berusaha menghambat laju Iran menjadi satu poros adidaya ke depannya. Mereka tahu itu akan terjadi, namun mereka berusaha untuk memperlambat, apapun caranya, entah menciptakan ketidakamanan di jalanan, destabilisiasi kota-kota kunci, menyibukkan kampus-kampus sehingga tidak dapat menjalankan aktivitas belajar mengajar, menciptakan kekacauan di daerah-daerah perbatasan sehingga merusak fokus pemerintah pusat dan lain sebagainya.

Iran tidak diam menghadapi kerusuhan ini. Pemimpin Agung Iran, Sayyed Ali Khamenei telah memberikan perintah untuk pengadilan terhadap para perusuh. Beliau membagi para perusuh menjadi dua kategori. Kategori pertama adalah anak-anak muda yang terbawa suasana dan tertipu.

Kategori kedua adalah orang-orang yang secara sadar membuat kerusuhan di Iran, baik mereka yang merupakan agen ataupun diperalat untuk menjalankan rencana musuh di dalam Iran. Termasuk sel-sel tidur gerakan anti revolusi Islam, anggota MKO, kelompok separatis, sisa-sisa anggota SAVAK dan kerajaan dinasti Pahlevi.

Untuk kategori pertama, tindakan yang direkomendasikan oleh beliau adalah penyadaran akan kesalahan mereka, peringatan, pemahaman serta arahan. Untuk kategori kedua tindakan yang diminta oleh beliau adalah pengadilan dan penetapan hukuman sesuai dengan tingkat kontribusi dan persentase keterlibatan mereka dalam kerusuhan yang terjadi termasuk perusakan fasum, penyerangan tempat ibadah, pelecehan terhadap simbol-simbol agama dan negara, pengeroyokan dan pembunuhan terhadap aparat serta sipil.

Sejauh ini Iran telah melakukan investigasi tuntas terhadap kematian Mahsa Amini dan orang-orang semisalnya dan menunjukkan fakta yang sebenarnya bahwa mereka tidak meninggal akibat pukulan polisi. Iran telah menahan sejumlah provokator dan leader-leader utama kerusuhan, menginterogasi terhadap mereka, menemukan koneksi mereka dengan pihak asing dan penentuan hukuman sesuai dengan presentase keikutsertaan mereka dalam kerusuhan.

Kerusuhan kali ini cepat atau lambat akan reda. Musuh-musuh Iran baik yang ada di dalam maupun di luar akan kembali gigit jari. Sebagaimana kata pepatah, “what doesnt kill you, makes you stronger”. Iran akan menjadi lebih kuat lagi dan lebih kuat lagi, sampai menjadi salah satu poros kekuatan dunia dan memimpin bangkitnya peradaban baru dunia Islam kelak. Hari itu sudah dekat. Sangat dekat… (M)

One thought on “Mahsa Amini, Kegagalan Para Musuh dan Iran yang Makin Tangguh

  • 28 Oktober 2022 pada 18:49
    Permalink

    I love Iran.. Dan semoga makin berjaya.. Untuk dunia yang lebih baik..
    اللهم صل على محمد وآل محمد ❤❤

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *