Langgeng Revolusi Ilahi, Republik Islam Iran

Sepanjang sejarah kemanusiaan kita menyaksikan berbagai macam gerakan dan perubahan dalam kehidupan sosial. Berbagai macam gerakan masyarakat kita saksikan dengan alasan perbaikan dan kesejahteraan untuk kehidupan bermasyarakat yang lebih baik. Gerakan untuk sebuah perubahan dikarenakan ketidakpuasan dan kemurkaan masyarakat terhadap sebuah pemerintahan disebut dengan revolusi.[1]

Syahid Shadr berpendapat sebuah gerakan bisa disebut dengan revolusi jika perubahan yang diperjuangkan bersifat mendasar di seluruh aspek kehidupan masyarakat.[2] Artinya jika perubahan hanya di dalam aspek tertentu seperti ekonomi atau sosial saja, maka menurut Syahid Shadr tidak bisa disebut dengan revolusi.

Ilmu sosial politik melihat berbagai faktor revolusi sepanjang sejarah kemanusiaan dan membaginya menjadi dua faktor[3]:

  1. Faktor sosial, politik, ekonomi, akhlak dan HAM
  2. Faktor ideologi

Revolusi Perancis

Revolusi Perancis terjadi dikarenakan faktor sosial dan ekonomi yang begitu kacau sehingga masyarakat kelas tiga (rakyat biasa) Perancis dikarenakan perekonomian yang semakin memburuk dan pajak yang tinggi, menggulingkan kerajaan feodalisme Louis XVI dan menggantinya dengan demokrasi. Revolusi ini dikobarkan dengan harapan masyarakat mendapatkan hasil yang signifikan dalam bidang sosial dan ekonomi.

Revolusi Perancis memberikan dampak besar terhadap dunia sehingga banyak negara terinspirasi dari ledakan revolusi mereka. Namun jika kita menilik definisi Syahid Shadr, maka gerakan revolusi Perancis bukanlah revolusi yang sesungguhnya, melainkan hanya gerakan ketidakpuasan masyarakat kelas tiga terhadap kaum bangsawan dan agamawan yang memperlakukan mereka semena-mena. Hal ini terbukti setelah revolusi Perancis pada tahun 1789, sistem kerajaan (Napoleon) kembali memerintah Perancis pada tahun 1800, artinya revolusi Perancis hanya bertahan 15 tahun saja dan masyarakat tidak mampu menjaga revolusi yang mereka letuskan. [4]

Revolusi Rusia

Revolusi Akbar kedua setelah revolusi Perancis adalah revolusi Rusia. Faktor pemicu revolusi ini adalah sosial dan ekonomi sehingga masyarakat bangkit melawan pemimpin kala itu, Tsar Nicholas II. Masyarakat murka dengan gaya hidup kaum bangsawan yang glamor sedangkan masyarakat tertindih kemiskinan dan kelaparan sehingga mereka bangkit melawan kerajaan dan berhasil menggulingkan Tsar Nicholas II dan kemudian kepemimpinan diambil alih oleh Alexander Karensky. Namun revolusi ini tidak bertahan lama karena kaum Bolshevik dibawah pimpinan Vladimir Lenin 8 bulan kemudian berhasil menggulingkan pemerintahan sementara Karensky dan mengambil alih tampuk kepemimpinan.

Keberhasilan revolusi Bolshevik selain faktor ekonomi dan sosial terdapat faktor lain yaitu ideologi. Revolusi yang melibatkan seluruh komponen masyarakat dan ‘viralnya’ pemikiran Karl Marx di tengah-tengah masyarakat menjadi pemicu utama terjadinya revolusi dengan wajah baru, revolusi sosialis. Kaum Marxis dalam faksi Bolshevik akhirnya berhasil meraih kekuasaan dengan mengobarkan api revolusi sosialis pertama dalam sejarah kemanusiaan yang menjadi cikal bakal revolusi komunis di berbagai negara lainnya.

Runtuhnya Revolusi Rusia

Melihat faktor revolusi Rusia yang tidak hanya dikarenakan sosial, politik dan ekonomi, melainkan juga faktor ideologi, membuktikan bahwa revolusi Rusia sedikit lebih unggul dari revolusi Perancis yang tercetus karena faktor perut saja. Namun walaupun revolusi tersebut dibangun dengan faktor ideologi, tidak meniscayakan revolusi itu langgeng yang mana pada akhirnya revolusi sosialis runtuh pada tahun 1991 masehi.[5]

Keruntuhan komunis terjadi dikarenakan beberapa faktor, namun yang paling fundamental, ideologi komunis tidak bisa lagi diterapkan di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat melihat bahwa idealisme sosialisme hanyalah omong kosong kaum elit politik dan fakta sosial melihat kesejahteraan tidak merata ke seluruh lapisan masyarakat dan cenderung kaum bangsawan yang menikmati berbagai fasilitas negara, bahkan tak segan mereka melakukan korupsi besar-besaran sehingga kepercayaan masyarakat berkurang secara drastis.[6]

Lagi-lagi revolusi  dihancurkan oleh kemiskinan, kelaparan, kedzaliman dan “viralnya” ideologi demokrasi yang lebih segar dan bebas dari ideologi komunis. Sehingga masyarakat bangkit menolak sistem komunis dan berharap ideologi negara menjadi lebih bebas dan demokratis.

Revolusi Islam Iran

Revolusi Islam Iran yang dicetuskan oleh Imam Khomeini qs. pada tahun 1979 menggemparkan seluruh dunia dan menyita perhatian elit politik dunia. Analisa demi analisa ditulis di berbagai buku dan majalah karena selain faktor kelaparan, kemiskinan dan ketidakpuasan masyarakat terhadap kepemimpinan Reza Pahlevi, terdapat faktor ideologi yang kental dengan Islam Syiah yaitu ketaatan mutlak kepada seorang Marja atau Faqih.

Jika Rusia mampu melakukan revolusi besar dan bertahan selama dua dekade dikarenakan ideologi sosialis, maka Iran dengan sistem wali faqih-nya hingga kini masih berdiri tegak, walaupun diterpa perang selama delapan tahun dan embargo ekonomi Amerika selama lebih dari 40 tahun lamanya.

Mereka sudah berusaha menghancurkan Iran dengan menyusup ke dalam faksi politik dari dalam dan menyebarkan fitnah pada tahun 2009 sehingga menyebabkan kerusuhan dan huru-hara, namun lagi-lagi usaha mereka gagal total.

Upaya demi upaya telah dilakukan Amerika dan sekutunya untuk menjatuhkan revolusi Khomeini ini, namun hingga kini upaya itu seakan bertemu dinding besar dan tebal yang sulit mereka hancurkan karena dinding itu menurut Francis Fukuyama adalah dinding Huseinisme, Mahdisme dan Wilayatul Faqih. Selama masyarakat Iran memiliki ideologi ini, maka selama itu pula revolusi mereka akan tetap berdiri tegak dan semakin kuat.

Politik Islam menurut Imam Khomeini qs. kembali kepada filosofis manusia diciptakan dan diutusnya para nabi, membawa manusia kepada kesempurnaan ilahi. Karena politik Islam tujuannya adalah Allah swt, maka gerakannya nirbatas

Editor:  Untuk lebih lengkap tentang pemikiran politik Imam Khomeini, baca SEKELUMIT PEMIKIRAN POLITIK IMAM KHOMEINI

Untuk itu karena politik yang diusung Imam Khomeini qs. adalah politik Islam, maka revolusi yang diledakan adalah revolusi Islam. Penggiringan masyarakat menuju kesempurnaan menuntut adanya duta-duta Tuhan yang sempurna sebagai manifestasi Tuhan di muka bumi karena jika tidak sempurna, maka mustahil mampu membawa manusia kepada kesempurnaan, tidak punya tidak mungkin memberi.

Inilah konsep politik Islam yang ditawarkan Imam Khomeini qs. kepada masyarakat yaitu revolusi yang membawa manusia kepada kesempurnaan di bawah ulama rabbani yang mumpuni sebagai representasi dari manusia-manusia suci pilihan ilahi.

Konsep Imamah dan Keadilan Ilahi dalam mazhab Syiah tentu memiliki peran penting dalam membentuk revolusi Islam Iran sebagai poros masyarakat sehingga akan sulit tercerabut selama ideologi ini tidak bisa dipatahkan secara akal maupun nash. Inilah yang membedakan revolusi Islam Iran dengan revolusi lainnya karena tujuan revolusi tidak hanya memenuhi kebutuhan materi, melainkan memenuhi pula kebutuhan non materi.

Revolusi Islam Iran dicetuskan bukan hanya untuk mengenyangkan perut manusia, melainkan untuk memanusiakan manusia. Embargo, perang, kelaparan, kemiskinan, teror dan lain sebagainya tidak akan menghancurkan revolusi Islam Iran karena tujuan utama revolusi adalah menggiring manusia kepada kesempurnaan ilahi bukan kesempurnaan materi.

Imam Khomeini qs. berkali-kali menegaskan bahwa Revolusi Islam Iran itu sendiri bukanlah tujuan utama, melainkan sarana untuk mempersiapkan revolusi akbar yang kelak akan dibawa oleh Imam Mahdi as. Selama masyarkat memiliki ideologi mahdisme, maka ditekan seburuk apapun mereka akan tetap berdiri tegak karena mereka yakin kezaliman di dunia ini akan segera berakhir kala Imam Mahdi as hadir dimuka bumi ini. Begitupula selama masyarakat memiliki ideologi huseinisme, maka ditakuti dengan kematian terburukpun masyarakat akan menyambutnya dengan senyuman karena tidak ada kematian yang lebih menyakitkan dari pemimpin mereka Imam Husein as.

Selama api mahdisme dan huseinisme masih ada di dalam tubuh revolusi Islam Iran, maka selama itu pula revolusi ini akan terus membara.

Ali Akbar Qomi


[1]  Majmu e asar, Murtadha muthahari, Juz. 24 hal.139

[2]  Jamsyidi, Andisye siyasi e Syahid Shadr, hal. 120

[3]  Inqilab, Ayatulah Fuladwand, Hal. 65

[4] Inqilab e faranse, Malikiyan, Hal. 1-17

[5] Tarikh Inqilab e rusie, Muhammadi, Juz.1, Hal. 27-47

[6] Ibid, Hal. 50

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *