Imam Musa Al-Kazim dalam Pandangan Ulama Ahlisunnah

Imam Musa Al-Kadzim adalah putra dari Imam Ja’far Shadiq as, beliau adalah Imam ketujuh dalam silsilah dua belas Imam. Beliau dilahirkan di Al-Abwa, Arab Saudi pada tahun 128 H. Ayah beliau adalah Imam Ja’far Shadiq dan Ibu beliau bernama Hamidah al-Barbariyah. Sibtu Ibnu Jauzi salah seorang ulama Hambali ketika menjelaskan tentang Imam Musa Al-Kadzim as berkata:

ابن جعفر بن محمد بن علی بن حسین بن علی بن ابی طالب (ع). و یلقب (بالکاظم) و المآمون، و الطیب و السید، و کنیته ابو الحسن و یدعی بالعبد الصالح لعبادته و اجتهاده و قیامه باللیل

“Beliau adalah putra Ja’far bin Muhammad bin Ali bin Husein bin Ali bin Abi Thalib. Beliau diberi gelar Al-Kadzim, Al-Ma’mun, At-Thayib, AS-Sayid, Kuniyahnya adalah Abul Hasan. Beliau juga dipanggil dengan Abdus Sholeh (Hamba yang sholeh) disebabkan ibadah, ijtihad dan shalat malamnya”. (Tazkiratul Khawas, Hal 312).

Ibnu Tulun salah seorang penulis Ahlisunnah mengenai Imam Musa Al-Kadzim as berkata:

وسابعهم ابنه موسی. وهو ابو الحسن الکاظم بن جعفر الصادق بن محمد الباقر بن علی زین العابدین بن الحسین بن علی بن ابی طالب

“Yang ketujuh dari silsilah dua belas Imam adalah putra Imam Ja’far Shadiq yang bernama Musa. Beliau adalah Abul Hasan al-Kadzim bin Ja’far Shadiq bin Muhammad al-Bagir bin Ali Zainal Abidin bin al-Husein bin Ali bin Abi Thalib”. (A’imah Itsna Asyariyah, Hal 89).

Ulama-ulama Ahlisunnah sangat banyak sekali mencatat keutamaan dan karomah beliau as, bahkan banyak sekali kitab yang membahas khusus tema tentang dua belas Imam Syiah. Salah satu keutamaan Imam Musa bin Ja’far as yang terdapat dalam kitab Ahlisunnah, tentang masalah ibadah. Bahkan beliau dijuluki sebagai Abdus Soleh (hamba yang sholeh) dikarenakan ibadah dan kedekatan dengan Rabb-Nya. Salah seorang Ulama Ahlisunnah Mausuli as-Syafi’ie dalam kitabnya menulis:

انه کان اذا صلی الصبح ذکر الله تعالی فی سره الی طلوع الشمس

“Bahwasanya ketika beliau melakukan shalat subuh lalu melakukan dzikir dengan suara pelan sampai terbitnya matahari”. (An-Na’imul Muqim, Hal 134)

Dalam kitab yang lain juga diriwayatkan, bahwa Imam Musa al-Kadzim memasuki masjid Rasulallah saw, kemudian beliau melakukan sujud dari awal malam sampai subuh sambil bermunajat dan mengulang-ulang bacaan: “Ya Allah betapa banyak dosaku dan betapa indah pengampunan dari sisiMu, Wahai pemilik ketakwaan dan pemilik ampunan”. (A’imah Itsna Asyariyah, Hal 89).

Itulah sekilas dari Ibadah Imam Musa al-Kadzim as dalam kitab-kitab Ahlisunnah, yang tentunya jika ingin dibahas secara rinci akan memakan banyak waktu dan bisa menjadi tulisan yang amat panjang.

Kemudian keutamaan Imam Musa al-Kadzim as yang kedua sebagaimana terdapat dalam kitabnya Ibnu Sobah al-Maliki adalah pengabul hajat-hajat kaum muslimin.

وهو المعروف عند اهل العراق بباب الحوائج الی الله و ذلك لقضاء حوائج المسلمین المتوسلین

“Beliau terkenal dengan sebutan Babul Hawaij dikalangan penduduk Irak, hal tersebut dikarenakan Beliau menyelesaikan kebutuhan kaum muslimin yang bertawasul kepadanya”. (Fusulul Muhimmah, Bab 7, Hal 354)

Imam Musa al-Kadzim as hidup sezaman dengan para Khalifah Bani Abbas seperti: Mansur Abbasi, Mahdi Abbasi, Hadi Abbasi dan Harun ar-Rasyid. Beliau adalah Imam yang paling banyak tinggal dipenjara, dikarenakan para Khulafa Bani Abbas takut terhadap kegiatan-kegiatan beliau yang mengancam kekuasaan Bani Abbas. Beliau paling lama berada dipenjara pada masa Harun ar-Rasyid dibanding khalifah-khalifah sebelumnya, bahkan baliau syahid pada tahun 183 H di dalam penjara akibat racun yang diberikan oleh orang suruhan Harun Rasyid.  

Haram atau kuburan Imam Musa al-Kadzim yang berada di Irak selalu menjadi pusat ziarah kaum muslimin, mereka datang berduyun-duyun untuk mengunjungi makam Abul Hasan khususnya dihari-hari menjelanng Arba’in Huseini. Sibtu Ibnnu Jauzi berkata:

“Beliau (Imam Musa al-Kadzim as) dikuburkan dipekuburan Quraisy, dan kuburanya tampak menjadi tempat ziarah”.

Dari sini dapat kita ambil kesimpulan, bahwa para Imam maksum adalah manusia-manusia suci dan memiliki kedudukan yang tinggi baik dalam pandangan Syiah maupun Ahlisunnah. Imam Musa al-Kadzim as adalah salah satu dari Imam Ahlilbait yang memiliki kedudukan tinggi dalam pandangan ulama Ahlisunnah, berbagai macam keutamaan yang berhubungan dengan Imam Musa al-Kadzim as telah mereka abadikan dalam kitab-kitabnya, meskipun pada akhirnya beliau hanya diakui sebagai seorang yang sholeh bukan seorang Imam sebagaimana yang ada dalam konsep Syiah.

Penulis : Muhammad Suripto

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *