Imam Ali al-Hadi as dalam Pandangan Ulama’

Berbicara tentang pribadi agung Imam Ali al-Hadi As. Kita dapat membahasnya dari berbagai sudut pandang, baik itu dari sudut pandang personal, keluarga, keilmuan, politik, pesan-pesan yang dimiliki oleh beliau dan lain-lain. Dimana setiap bagian darinya merupakan pembahasan tersendiri yang sarat akan pelajaran, untuk kita terapkan dalam kehidupan kita.

Meskipun demikian, tidak banyak data dan informasi dari kehidupan Imam Hadi as. bila dibandingkan dengan imam-imam Syiah yang lainnya. Menurut sebagian para cendikiawan, di antara penyebabnya adalah pendeknya umur beliau, terisolasi dari dunia luar dan ketidaksyiahan para ahli sejarah pada zaman itu.

Nama lengkap beliau adalah Ali Bin Muhammad Al-Hadi as. Imam kesepuluh dari para Imam Ahlulbait as. Dilahirkan di sebuah desa di pinggiran kota Madinah Munawarah yang dinamai Sharya. Desa ini berjarak tiga mil dari kota Madinah. Didirikan oleh Imam Khadzim as saat terjadi perang terakhir antara suku ‘Aus dan Khazraj (dua kabilah penting di Madinah).

Sekaitan dengan kelahiran sang Imam terdapat perbedaan pendapat, ada yang mengatakan ia  dilahirkan di hari Jum’at atau Selasa di pertengahan bulan Zulhijah atau di bulan Rajab tahun 212 H, sementara Syeikh Kulaini berpendapat bahwa beliau dilahirkan di bulan Rajab tahun 214 H yang bertepatan dengan 829 M.

Imam Hadi as tumbuh dan berkembang di lingkungan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Islam nan murni. Sebab beliau berada di bawah bimbingan langsung sang ayah Imam Muhammad al-Jawad as. Imam Ali Hadi yang menerima estafet kepemimpinan yang bersambung hingga ke Nabi saw. dalam usia yang amat belia, yaitu 5 tahun.

Ibunya yang mashur dengan nama Samanah al-Maghribiyah, yang merupakan hasil didikan Imam Muhammad al-Jawad As. yang dijuluki ‘Arifah (yang bijaksana).

Julukannya adalah Abu Hasan. Dalam riwayat-riwayat disebutkan bahwa ia dijuluki Abu al-Hasan al-Tsalits. Supaya tidak terjadi kekeliruan dengan Abu al-Hasan al-Awwal, yaitu Imam Kadzim as dan Abu al-Hasan al-Tsani, yaitu Imam Ridha as.

Lakabnya yang paling masyhur adalah Al-Hadi dan Al-Naqi As. Adapun di antara lakab-lakab lain yang disematkan padanya adalah al-Murthadha, al-‘Alim, al-Faqih, al-Amin, al-Nashih dan al-Thayyib.

Perlu dicatat juga adalah bahwa nama dan julukan yang dimiliki oleh para Imam pada umumnya dan Imam Ali al-Hadi as khususnya, merupakan pelajaran yang amat berharga untuk kita. Sebab nama atau julukan itu merupakan cerminan dari pribadi yang menyandangnya.

Nama-nama tersebut memiliki pengaruh dalam kehidupan dan kepribadian kita.

Imam Ali al-Hadi As memegang tampuk Imamah dalam usia yang masih amat belia 7 atau 8 tahun. Menurut berbagai sumber yang ada, umur belia yang dimiliki oleh Imam As tidak membuat orang-orang Syiah menjadi ragu ataupun bertanya-tanya, apakah anak yang masih belia dapat memegang tampuk Imamah?

Ada pertanyaan lain yang senada, sebab mereka telah melewati masa dimana Imam Muhammad al-Jawad as. menerima tampuk Imamah pada usia yang lebih muda dari Imam Hadi as, hal ini yang menyebabkan orang -orang syiah tidak ragu lagi dalam menghadapi persoalan yang seperti serupa.

Masa keimamahan Imam Ali al-Hadi As berlangsung selama 34 tahun, dari tahun 220 hingga 254 H.

Setelah kita mengetahui sekelumit tentang biografi Imam Ali al-Hadi as. Tiada salahnya kita mengetahui tentang pendapat para ulama’ akan pribadi agung Imam Ali al-Hadi as.

Syaikh Mufid dalam kitabnya al-Irsyad menyebutkan,

“Bahwa Imam setelah Abi Ja’far adalah putranya Ali Bin Muhammad dikarenakan terhimpun pada pribadinya tanda-tanda Imamah dan sempurnanya keutamaannya, tidak ada orang yang layak mewarisi kedudukan ayahnya selain dirinya, berdasarkan ketetapan riwayat atas keimamahannya dan isyarat sang ayah atas khilafahnya.”

Ibu Hajar dalam kitabnya al-Sawa’iq menyebutkan,

“Abu al-Hasan al-Hadi As merubakan pewaris ayahnya dalam hal ilmu dan kedermawanan.”

Al-Qutb al-Rawandi dalam kitabnya Al-Kharaij menyebutkan,

“Telah terhimpun dalam pribadi Imam al-Hadi as. pekerti Imamah, sempurnanya keutamaan, ilmu dan pekerti kebajikan, dan akhlaknya yang adi luhur seperti halnya akhlak ayah-ayahnya.”

Ibnu Syahr Asyub dalam kitabnya Al-Manaqib menyebutkan,

“Beliau adalah Imam yang paling elok dari semua manusia yang ada, paling fasihnya manusia dalam dialek, dia berasal dari keluarga risalah dan Imamah, tempat wasiat dan khilafah.”

Dari perkataan para ulama’ ini, kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa pribadi Imam Ali al-Hadi as adalah pribadi yang tiada duanya. Karena semua sisi dari kehidupannya mengandung pelajaran untuk kita bumikan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari kita. Sehingga kita akan mendapati kedamaian dalam menjalani hidup, sebab kita berjalan dijalan yang telah digariskan oleh para duta Allah swt. di muka bumi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *