Definisi, Sejarah dan Syarat Laknat. Relevankah bagi Kita?

Layakkah Kita Melaknat?

Tragedi yang menimpa cucu Nabi saw. Imam Husain as. pada bulan Muharram adalah tragedi pembantaian terbesar di dalam sejarah Islam. Tragedi ini menyimpan sebuah rahasia besar.

Bagaimana mungkin peristiwa pembantaian dan pertumpahan darah bisa membangkitkan dan menghidupkan sebuah perlawanan?

Bagaimana mungkin darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh dan jasad-jasad yang terinjak-injak menjadi inspirator gerakan-gerakan revolusioner di seluruh dunia?

Tak lain, ini karena kebangkitan (qiyam) Imam Husain as. membawa pesan yang menjadi harapan seluruh umat manusia. Pesan itu adalah ‘kemerdekaan’.

Kemerdekaan sendiri memiliki berbagai sisi. Salah satu sisinya adalah kemerdekaan individu atau kemerdekaan diri. Artinya, kita merdeka dan bebas melakukan apapun yang kita inginkan.


Baca juga Merdeka Bersama Al-Husain adalah Penyucian Hati


Laknat dan Politik Muawiyah

Berhubungan dengan kebebasan individu tersebut, apakah kita bebas untuk melaknat?

Laknat, singkatnya adalah doa untuk menjauhkan rahmat Allah swt. Laknat berbeda dengan mencaci ataupun menghina. Pertanyaannya, apa hubungan laknat kepada para musuh Imam Husain as. dengan kita?

Yang dibantai adalah Imam Husain as. dan keluarganya, lalu apa hak kita melaknat mereka yang membunuh Imam Husain as?

Konsep laknat, memiliki beberapa dimensi. Dimensi yang paling menonjol adalah dimensi politik. Contohnya, ketika Muawiyah bin Abu Sufyan memerintahkan siapa saja yang duduk di mimbar untuk melaknat Imam Ali as.

Tindakan ini adalah langkah politik dan strategi Muawiyah untuk menjauhkan dan mengasingkan Imam Ali as. dari masyarakat saat itu. Monopoli media massa. Strategi ini terbilang ampuh, karena jadi banyak masyarakat tidak mengenal Imam Ali as. Masyarakat terpengaruh dan beranggapan bahwa Imam Ali as. adalah orang yang sangat buruk, sehingga pantas dilaknat.

Begitu juga, konsep ini dianut oleh Amerika melawan Iran dan negara-negara resistensi lainnya. Walaupun kata laknat sendiri tidak dipakai, namun konsep dan ‘politik pengasingan’ jelas merupakan salah satu adopsi dari politik laknat.


Ziarah Asyura

Tragedi Asyura’ (10 Muharram) merupakan sebuah ‘sekolah’ yang sangat komplit dengan berbagai pelajaran dan ibrahnya. Bahkan Ziarah Asyura mengandung berbagai macam pelajaran yang bisa kita petik hikmahnya. Kita dianjurkan untuk membaca Ziarah Asyura setiap hari waktu Subuh. Nah, di dalam Ziarah Asyura ada kata-kata laknat terhadap para pembunuh Imam Husain as.

Lalu, apa hak kita melaknat mereka? Sudah pantaskah kita melaknat mereka?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, kita perlu membahas terlebih dahulu kesahihan riwayat Ziarah Asyura. Apakah Ziarah Asyura sahih sanadnya? Ataukah lemah? Karena jawaban kita ada di dalam kandungan dari teks Ziarah Asyura itu sendiri. Sehingga, jika sanadnya lemah kita tidak perlu membahasnya lebih jauh lagi.


Sanad Ziarah Asyura

Terkait dengan sumber riwayat Ziarah Asyura, banyak sekali silsilah perawi yang meriwayatkan Ziarah Asyura. Kita akan membahas salah satunya yang dinukil di dalam kitab Mafatih al-Jinan.

Kitab Mafatih al-Jinan sendiri mengutip dari riwayat Syaikh Thusi. Al-Ghadairi, salah satu ulama rijal, mempermasalahkan salah satu perawi dalam silsilah hadis tersebut, yaitu Solih bin ‘Uqba.

Al-Ghadairi dalam kitab rijalnya, menyebut bahwa Solih bin ‘Uqba adalah seorang pembohong. Namun, sebagian ulama mempermasalahkan bantahan Al-Ghadairi itu sendiri. Karena Al-Ghadairi sering kali mempermasalahkan perawi-perawi yang meriwayatkan tentang keagungan Ahlulbait as. Bahkan sebagian ulama – salah satunya Ja’far Subhani, mengatakan bahwa sanggahan Al-Ghadairi terhadap Solih bin ‘Uqba itu tidak tepat karena sifatnya itu.

Selain al-Ghadairi, ulama-ulama lainnya sepakat bahwa silsilah perawi Syaikh Thusi itu semuanya merupakan orang yang jujur dan terpercaya. Kesimpulannya, sanad riwayat Ziarah Asyura adalah sohih dan valid.


Syarat Melaknat

Ziarah Asyura mengajarkan kepada kita bahwa pengakuan kita kepada keimamahan saja tidak cukup untuk memberikan kita hak melaknat para musuh Imam Husein as. Menjadi pengikut Imam Husain as. dan mengakui keimamahannya tidak memberikan kita kebebasan untuk melaknat.

Ziarah Asyura mengajarkan kita bagaimana dan syarat-syarat sebelum kita melaknat sesuai urutan kandungan ziarah itu sendiri.

Syarat pertama, pengakuan kita kepada konsep imamah. Karena ada salam kepada Rasulullah, Amirul Mukminin, dan Sayidah Fathimah yang mengawali Ziarah Asyura.

Syarat kedua, ketika kita telah mengetahui hakikat dari musibah yang menimpa Imam Husain as. Kita perlu yakin bahwa musibah Asyura’ di Karbala adalah musibah yang menimpa seluruh kaum muslimin bahkan seluruh penduduk langit dan bumi. Kita perlu faham, bahwa musibah tersebut, seluruh penduduk langit dan bumipun terkena imbasnya.

Syarat ketiga, menjalani hidup seperti Nabi Muhammad saw. dan Ahlulbait as. Setelah ketiga syarat ini terpenuhi, barulah kita melaknat para musuh Cucu Rasulullah saw. Imam Husain as. Maka, sebelum ketiga syarat ini terpenuhi, kita tidak memiliki hak, bahkan kita tidak boleh melaknat mereka.

Wallahu a’lam.


Ceramah malam ke-2 Muharram 1443 H, Haiat Hubbul Husein.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *