Berkah Ramadhan untuk Keluarga; Ramadhan Sebagai Momen Menemukan Kembali Identitas Keluarga

HPI – Sekali lagi kita mendapatkan kesampatan untuk memasuki bulan Ramadhan, bulan jamuan Ilahi yang memiliki banyak kemuliaan. Di bulan ini, kita mendapatkan kesempatan untuk meningkatkan kualitas ibadah dan penghambaan kita yang mana ini merupakan kesempatan yang paling dinantikan oleh hamba-hamba Tuhan. Bulan Ramadhan, sebagaimana yang kita tahu memiliki segudang kemuliaan dan keistimewaan yang disuguhkan untuk seluruh umat manusia dan kita bisa temukan dalam pidato terkenal Rasulullah saw menjelang Ramadhan dan pembaca semua pasti sudah membacanya.

Salah satu hal yang mungkin perlu kita renungkan di bulan ini adalah bahwasannya bulan Ramadhan selain momentum untuk mencapai derajat kemuliaan, ketakwaan dan penghambaan yang lebih tinggi, bulan ini juga merupakan momentum untuk bercengkrama dengan keluarga dan mengembalikan identitas keluarga berdasarkan nilai-nilai agama. Seperti yang kita tahu, waktu sahur dan berbuka merupakan salah satu momen yang istimewa bagi sebuah keluarga karena biasanya di waktu inilah mereka berkumpul untuk menyantap santapan sahur atau santapan berbuka. Oleh karenanya, di momen seperti ini seyogianya kita juga memiliki orientasi untuk menjalin hubungan keluarga yang semakin erat, membangun kembali identitas keluarga sesuai ajaran Islam dan memperkokoh jalinan keluarga dengan nilai-nilai spiritual, disamping kita meningkatkan kualitas ibadah dan penghambaan pada Allah swt tentunya.

Memperhatikan poin ini memiliki urgensi tersendiri terutama di tengah kondisi zaman sekarang yang mana semakin banyak pihak yang selalu berusaha untuk menghilangkan identitas sebuah keluarga yang dibangun atas dasar kasih sayang dan nila-nilai agama. Di setiap zamannya, mereka semakin gencar dan semakin intens mempropagandakan hal-hal yang menghancurkan pondasi-pondasi berkeluarga khususnya pondasi spiritual. Hal ini terlihat semakin memprihatikannya tingkat perceraian setiap tahunnya, khususnya di Indonesia.

Situs indiatoday.com melaporkan bahwa tingkat perceraian dunia dari tahun 1960an sampai sekarang melonjak hingga lebih dari 250 persen. Dalam sebuah kesempatan, Direktur Pembinaan Administrasi Peradilan Agama, Mahkamah Agung RI, data Mahkamah Agung menunjukan lonjakan perceraian di tengan masa pandemik dengan adanya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Dengan melihat fakta ini muncul dalam benak kita terkait  lingkungan keluarga, seakan mereka yang bercerai ‘tidak betah’ terlalu lama bersama-sama berada di rumah, dan seakan rumah bukan lagi tempat yang nyaman bagi mereka. Bukankah seperti itu?

Para intelektual barat meyakini bahwa system kapitalisme dan kemajuan teknologi memiliki pengaruh besar dalam hilangnya keharmonisan keluarga. Teknologi yang memungkinkan kita memiliki anak tanpa hubungan suami-istri berefek pada semakin merajalelanya hubungan sejenis dimana mereka bisa mempunyai anak dan membentuk ‘keluarga’ tanpa harus menikah. Hal ini memberikan dampak negative pada generasi muda kita.

Selain itu, dalam 100 tahun terakhir kita menyaksikan banyak wanita berbondong-bondong menuju perusahaan-perusahaan dan pabrik-pabrik dan meninggalkan peran mereka sebagai seorang ibu rumah tangga. Beberapa tahun silam, sistem kapitalisme menuntut banyak pekerja yang bisa dibayar rendah, sehingga mereka ‘menarik’ para wanita dari rumahnya untuk bekerja di pabrik-pabrik dan perusahaan secara masif. Padahal dalam Islam, seorang ibu memiliki peran vital dalam membentuk keluarga yang kokoh dan harmonis. Namun bukan berarti juga Islam melarang secara mutlak para perempuan untuk memiliki aktivitas di luar rumah.

Kita harus sadar bahwa peran seorang ibu dalam rumah tangga tidak  bisa tergantikan oleh apapun sehingga dikatakan bahwa seorang ibu adalah awal mula dari peradaban. Imam Khomeini menyamakan kedudukan dan peran ibu sebagai seorang penyelamat bangsa,beliau berkata: “Seorang ibu dapat membesarkan seorang anak dengan baik dan anak itu akan menyelamatkan suatu bangsa. Ia dapat membesarkan seorang anak dengan buruk dan anak itu akan menghancurkan suatu bangsa.”

Memperkokoh Lingkungan Keluarga

Secara umum, untuk memperkokoh keluarga dan menjadikan lingkungan keluarga yang kondusif dan terbentengi dari hal-hal yang merusak keharmonisan keluarga bisa kita mulai dari beberapa hal berikut:

  1. Jangan Lupakan Tujuan Penciptaanmu

Dan tidaklah Kami menciptakan jin dan manusia kecuali untuk menyembahku.”[1]

Ayat ini harus kita jadikan poros utama dalam kehidupan rumah tangga, jangan sampai ada keluarga kita melenceng dari jalan ini. Hendaknya sebuah keluarga menjadikan orientasinya bersifat Ilahiah bukan hanya hal yang bersifat materi saja. Dengan berpegang teguh pada hal ini, maka definisi penderitaan, kesenangan, kegagalan dan keberhasilan bagi keluarga akan berubah. Penderitaan dan kegagalan artinya kita jauh dari Allah, melupakan jati diri kita sebagai hamba-Nya, melupakan tugas kita sebagai individu keluarga untuk saling mengingatkan pada ibadah dan lain sebagainya. Sebaliknya, makna keberhasilan dan kebahagiaan adalah lawan dari itu semua.

Allah swt berfirman: “Barang siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka Kami pasti akan memberikannya kehidupan yang baik…”[2]

  • Kasih Sayang adalah Ruh Kehidupan

Kita harus selalu ingat bahwa keluarga tanpa adanya ruh kasih sayang, maka mereka akan hampa dan mudah rusak diterjang badai. Setiap anggota keluarga hendaknya selalu menampakkan kasih sayang satu sama lainnya baik dengan lisan ataupun tindakan kita seperti memperlakukan keluarga dengan baik, saling memberi hadiah, selalu husnuzhon dan sebagainya. Amirul Mukminin berkata: “Perbuatan baik akan melahirkan kasih saying.”[3]

Terkait memberikan hadiah, Imam Ja’far Shadiq berkata, “Berikanlah hadiah kepada satu sama lain, tampakkanlah kasih saying dengan cara ini, karena ini akan mengikis rsa benci dan permusuhan.”[4]

  • Saling Memahami

Baik laki-laki maupun perempuan, dewasa maupun anak-anak, menginginkan orang lain untuk memahaminya, oleh karenanya kita harus senantiasa berusaha memahami orang di sekitar kita, khususnya di lingkungan keluarga. Memahami kebutuhan mereka, karakter mereka dan emosional mereka.

Hal-hal ‘sederhana’ seperti selalu mengapresiasi apa yang keluarga kita lakukan, berterima kasih dan memaafkan kekurangan akan menjadi benteng yang kuat dan memperkokoh jalinan sebuah keluarga dan rumah tangga.

Ini adalah beberapa hal yang merupakan tugas bersama sebagai individu keluarga untuk membentengi lingkungan keluarga dari berbagai bahaya dan propaganda musuh dalam merusak keharmonisan rumah tangga dan tentunya masih banyak yang lainnya.

Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan bulan suci Ramadhan ini untuk kembali merenungi jati diri dan identitas keluarga melalui kebersamaan-kebarsamaan yang akan kita lalui selama sebulan penuh ini.

Sebagai penutup, mari kita renungkan ucapan Imam Khamenei hf:

“Musuh umat manusia, yakni arus kapitalisme dan Zionisme internasional, pada hampir seratus tahun yang lalu memutuskan untuk menghancurkan keluarga di antara umat manusia; Dan di beberapa kasus mereka sudah berhasil.”[5]

Oleh: AP


[1] QS. Adz-Dzariyat : 56

[2] QS. An-Nahl : 97

[3] ‘Uyun al-hukm wal mawa’izh, hal. 281

[4] Al-Khishol, jil. 1 hal 27

[5] Ucapan Rahbar dalam pidato beliau ketika memperingati kelahiran Sayyidah Fathimah tahun 2018 di Husainiya Imam Khomeini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *