Tentang Kami

Sejarah

Bulan Mei tahun 2000 merupakan momentum penting bagi para talabeh (sebutan untuk pelajar Hauzah) Hauzah Ilmiah di Iran. Di bulan itu lahir sebuah Organisasi Pelajar Indonesia terbesar di Republik Islam Iran, yang kelahiran dan keberadaannya tidak saja berangkat dari prinsip-prinsip kebutuhan sosial, juga sebagai wadah untuk membangun sebuah kesadaran organisme secara kolektif.

Berangkat dari prinsip itu, salah satu pelajar memunculkan sebuah gagasan untuk membentuk sebuah wadah bagi pelajar melalui cara yang sangat praktis dan demokratis. Langkah pertama yang dilakukan adalah melalui penjajakan dengan mengedarkan surat pernyataan tanda persetujuan untuk didirikannya wadah tersebut. Dalam proses ini, hasilnya hanya sedikit yang membubuhkan tanda tangan surat edaran tersebut. Meski dengan jumlah relatif sedikit itu, namun ketika diadakan sebuah “referendum”, hasilnya sangat mengejutkan. Mayoritas mutlak pelajar (putra) menandatangani surat tanda pernyataan yang dibagikan. Dari jumlah 45 pelajar putra saat itu, 41 orang membubuhkan tanda-tangan persetujuan.

Dari hasil referendum itu, beberapa orang yang mempunyai komitmen dalam permasalahan keorganisasian kemudian bergerak merealisasikan keinginan bersama tersebut. Disusunlah langkah-langkah struktural dengan membentuk Steering Committee (SC). SC kemudian mengadakan sebuah Lokakarya itu menghasilkan sebuah Badan Pekerja (BP) yang beranggotakan lima orang untuk menyusun Draft Tata Tertib Musyawarah Anggota, AD/ART, Mekanisme Pemilihan Ketua, Job Deksripsi, serta Garis-garis Besar Program Kegiatan Organisasi. Forum pada itu menyepakati Ustadz Abdullah Beik, Ustadz Ibrahim Al-Habsyi, Ustadz Thaha Musawa, Ustadz Otong Sulaeman dan Ustadz Mukhtar Lutfi sebagai anggota BP. Mereka terpilih melalui voting. Setelah BP terbentuk, mereka menggelar dua kali pertemuan intensif pada tanggal 21 dan 23 Agustus pada tahun yang sama. Seluruh draft sebagaimana yang diamanatkan dalam Lokakarya berhasil diselesaikan dan diajukan ke forum umum. Maka, proses pembentukan organisasi pun memasuki babak baru yang paling signifikan dan menentukan.

Tepatnya hari Jumat, 25 Agustus 2000. Dilihat dari daftar hadir Musyawarah Anggota, tercatat 40 pelajar hadir dalam Musyawarah Anggota. Artinya, dari seluruh penandatangan surat pernyataan, hanya satu orang yang tidak hadir. Mereka semua menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah yang sedang berlangsung. Lewat rangkaian sidang yang maraton, alot, menegangkan, sekaligus melelahkan (dimulai jam 8 pagi sampai jam 9 malam), Musyawarah berhasil menyusun AD/ART dan memilih tiga orang sebagai anggota Presidium sebagai berikut; Ustadz Ibrahim Al-Habsyi, Ustadz Thaha Musawa, dan Ustadz Abdullah Beik.

Untuk membuat nama organisasi dan logo, dilakukan melalui proses demokrasi dengan membuat perlombaan pembuatan nama dan logo sekaligus yang diedarkan ke seluruh pelajar. Seminggu kemudian, akhirnya disepakati nama organisasi yang bernama Himpunan Pelajar Indonesia (HPI) dan menyepakati logo resmi yang saat ini menjadi lambang HPI.

Saat ini HPI sudah berumur 21 tahun. Artinya, selama perjalanan itu tentu banyak penyempurnaan baik dari sisi AD/ART maupun sistem keorganisasiannya. Dan yang terpenting dari itu semua adalah, sel-sel organisme kehidupan organisasi sudah “ternikahkan” secara batin dengan para anggotanya. Selama 21 tahun eksistensinya itu, HPI bukan hanya sekedar menjadi wadah dan majlis ilmu saja, tetapi di dalamnya terdapat kumpulan nilai-nilai kehidupan yang stabil dan tempat bagi tumbuh kembangnya nuansa kepekaan rasa terhadap setiap gejala dan getar kehidupan sosial.