Al-Husain adalah Inspirator Revolusi

HPI Iran – Bulan Muharram adalah bulan kesedihan dan kedukaan nabi Muhammad saw dan ahlulbaitnya as. Sudah sepantasnya kita ucapkan rasa bela sungkawa kita yang sebesar-besarnya kepada junjungan kita Nabi Muhammad saw dan sayidah Fathimah Az-zahra sa. Karena pada majelis-majelis duka Aba Abdillah Al-Husain yang menjadi tuan rumah adalah Nabi, sayidah Fathimah dan Ahlulbait as.

Setiap manusia memiliki sebuah titik puncak dalam kehidupannya, tak terkecuali imam Husain as. Peristiwa Asyura, tragedi pembantaian di Karbala adalah titik puncak Al-Husain as. Karena sebelum terjadinya tragedi itu, sedikit sekali yang membahas tentang Al-Husain. Namun setelah peristiwa Asyura, Al-Husain menjadi topik pembahasan di semua kalangan, di setiap waktu dan juga di setiap tempat.

Perjuangan Imam Husain as memiliki tujuan untuk membebaskan manusia dari kebodohan, penindasan, dan yang paling penting adalah untuk menyelamatkan agama kakeknya Muhammad saw. Asyura adalah simbol perlawanan melawan kezaliman, penindasan, dan kebodohan. Yang membedakan pengikut Syiah dengan pengikut Mazhab lainnya adalah, karena kaum Syiah memiliki Asyura. Mereka memiliki sebuah simbol yang melandasi semua Gerakan mereka. Sehingga mereka melawan segala bentuk penindasan dan kezaliman. Mereka tidak menerima kehinaan terinjak-injak oleh kaum penindas. Bagi mereka, kematian lebih mulia daripada hidup dalam kehinaan.

Baca juga: Seruan Imam Husain untuk Menjadi Manusia Merdeka

Oleh karena itu Asyura adalah sebuah nikmat yang besar, yang menjadikan diri-diri menjadi pribadi yang terhormat. Setiap nikmat tentu harus disyukuri. Setiap nikmat harus dihargai dan dijaga. Salah satu cara untuk mensyukuri nikmat besar ini adalah dengan membangun hubungan kita dengan para Imam Maksum as, terutama Imam Mahdi afs. Yang merupakan imam zaman kita.

Falsafah kebangkitan Al-Husain

Falsafah kebangkitan Al-Husain as adalah untuk menegakkan amar makruf dan nahi munkar.

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Kondisi saat itu, mewajibkan imam Husain as untuk melakukan amar ma’ruf dan nahi mungkar. Karena jika Imam Husain tidak melakukan pergerakan dan hanya diam saja, akan membahayakan ajaran Islam yang Nabi Muhammad saw bawa, bahkan Islam Muhammadi ini terancam sirna.

Salah seorang tokoh Ahlusunah, Toha Husain mengatakan bahwa alasan imam Husain as tidak berbaiat kepada Yazid bin Muawiyah adalah karena Al-Husain as menyadari baiat kepada Yazid bertentangan dengan hati Nurani manusia. Imam Husain as menyadari bahwa baiatnya kepada Yazid akan membahayakan agama Islam.

Imam Husain as adalah inspirator bagi tokoh-tokoh revolusioner di seluruh dunia. Mereka terilhami oleh perjuangan Imam Husain as. Mereka termotivasi untuk bangkit melawan penindasan dan penjajahan. Al-Husain menjadi inspirator mereka untuk mendapatkan kemerdekaan dan kebebasan.

Kemerdekaan Imam Husain as.

Kemerdekaan sendiri merupakan hal yang fundamental bagi sebuah bangsa. Sebuah bangsa akan dikenal dan dikenang dengan bagaimana cara ia merdeka. Walaupun kebebasan dan kemerdekaan merupakan dua konsep yang berbeda, namun keduanya memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya memiliki saling keterkaitan satu dengan lainnya. Kemerdekaan adalah asas sebuah kemerdekaan. Sebuah bangsa yang merdeka adalah bangsa yang bebas menentukan pilihannya sendiri tanpa ada campur tangan dan paksaan dari pihak yang lain. Sebuah bangsa tidak bisa merdeka jika ia masih harus bergantung pada pihak-pihak lain dalam menentukan pilihan dan jalannya.

Kemerdekaan memiliki dua sisi, sisi lahiriah yaitu bebas dari segala bentuk kekangan yang membatasi gerak fisiknya dan sisi lainnya adalah sisi batiniah yang berarti jiwanya bebas dari segala bentuk pengaruh yang mempengaruhi pikiran dan tujuannya kepada penghambaan kepada selain Allah. Merdeka secara batiniah berarti terbebas dari hawa nafsu dan keegoisan.

Para sahabat Imam Husain as yang ikut bersama rombongan Asyura adalah orang-orang yang memiliki dua sisi kemerdekaan ini. Mereka bebas secara lahiriah, mereka ikut dan bergabung dengan rombongan Imam Husain as karena keinginan mereka sendiri tanpa paksaan dari pihak mana pun. Mereka juga bebas dari sisi batiniah, karena mereka tidak memiliki rasa ketakutan demi meneguk cawan syahadah dan menggapai ridho ilahi.

Keberanian Imam Husein dalam melawan kezaliman Umayyah itu turut menginspirasi Soekarno, Presiden pertama sekaligus pemimpin perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia. Soekarno sangat menghormati perjuangan Imam Husain yang berani mengorbankan nyawa demi melawan kesombongan di Karbala. Sehingga Bung Karno berani memilih Gerakan non blok, tidak pro Barat dan juga tidak pro Timur.

Soekarno Terinspirasi dari Imam Husain as.

Hal itu Soekarno katakan dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi, sebagai berikut:

“Husain adalah panji berkibar yang diusung oleh setiap orang yang menentang kesombongan di zamannya, di mana kekuasaan itu telah tenggelam dalam kelezatan dunia serta meninggalkan rakyatnya dalam penindasan dan kekejaman.”

Bahkan Revolusi Islam Iran juga merupakan implementasi dari spirit Husaini.

Imam Khomeini berkata, “Revolusi Islam Iran tidak akan pernah ada tanpa Asyura.”

Jadi penting bagi kita untuk mengetahui kadar dari kenikmatan yang agung ini. Kenikmatan Asyura yang menjadi inspirator bagi revolusi-revolusi melawan hegemoni penindasan dan kezaliman. Agar kita dapat hidup dalam kehormatan dan jauh dari kehinaan.

Ceramah malam ke-3 Muharram 1443 H, Haiat Hubbul Husein.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *